Friday, June 5, 2009

Ujian Pertama Pasca Nikah

Hari-hari yang kulalui setelah nikah begitu indah, benar-benar indah. Sampai tiba waktunya kami dikejutkan oleh kejadian percobaan perampokan di rumah kami, Depok.

Subuh itu, kami berdua memang menyengajakan sahur untuk puasa senin kamis. Setelah sahur, akupun bersiap mandi untuk sholat subuh dan persiapan kerja. Di rokaat pertama tidak ada gangguan sedikitpun, kami berdua khusyu. Di rokaat kedua, firasat hati ini entah kenapa tiba-tiba mendadak ngga enak. Aku mendengar ada suara motor menghampiri rumah. Pikirku, mungkin ini motor tetangga. Sejurus kemudian, aku dikejutkan lagi dengan suara pintu gerbang yang dibuka dengan sangat terburu-buru. Perasaan hati ini semakin ngga enak. Langsung saja aku percepat bacaan sholat subuh. Ruku, Tuma’ninah, Sujud, Salam. Setelah selesai salam aku langsung menghampiri jendela depan dan melihat apa yang terjadi. Begitu terkejutnya aku, ketika aku berusaha mengintip situasi di luar, ternyata ada orang berjaket hitam, memakai topi sudah berada di atas motor honda bebek sedang membuka paksa kunci kontak motor. Seketika itu juga aku membentak orang itu sambil refleks tanganku membuka slot pintu rumah. Ternyata orang yang aku bentak, malah balik membentak dan beberapa detik kemudian, aku diperingatkan dengan suara pistol yang membuat aku sangat terkejut. Di saat inilah aku baru teriak “Maling”. Apa yang kudapat? Ternyata aku malah di tembak untuk kedua kali dengan mengarahkan pistol itu ke tempat dimana aku berdiri. Alhamdulillah, Allah masih bersamaku. Peluru yang mungkin seharusnya menembus badanku, akhirnya menembus kusen pintu sebelah kiri.

Ngga berapa lamu tetangga rumah mulai banyak berkerumun menghampiri rumahku untuk menanyakan apa yang sesungguhnya terjadi. Hmm, buat aku ini sudah menjadi teror untuk masyarakat di perumahanku. 4 orang perampok dengan kenekatannya memasuki areal perumahan yang pintu aksesnya Cuma satu. Aku beharap ini kali terakhir ada insiden percobaan perampokan dengan senjata api di perumahanku. Rumah yang aku tempati yang sudah selayaknya jadi tempat istirahat, mencari ketenangan batin, sekarang malah berubah penuh dengan kecemasan dan ketakutan. Terlebih istriku yang sampai hari ini masih menjadi ibu rumah tangga. Aku takut sesuatu terjadi dan mengancam keselamatan istriku. Semoga Allah selalu menjaga istriku agar terhindar dari teror dan apapun yang mengancam keselamatan istriku.

Sehari kemudian, aku sibuk berbenah karena masih shock dan trauma dengan kejadian ini. Seketika itu juga aku memesan teralis jendela untuk dapur. Kebetulan rumah baru direnovasi untuk membuat dapur. Aku pun beli kunci disk brake dua buah untuk dua motorku. Dan aku juga beli kunci gembok yang baru untuk pintu gerbang rumahku. Cukup terkejut diri ini setelah mentotal jumlah uang yang harus aku keluarkan untuk membeli alat-alat itu. Jumlahnya kurang lebih 700.000. Nilai ini jumlahnya sama persis dengan jumlah yang seharusnya aku keluarkan 2.5% dari yang aku dapat bulan lalu. Padahal, seminggu setelah kami mendapatkan rejeki bulan lalu, istri sudah mengingatkan untuk mengeluarkan zakat ini, tapi saat itu aku belum mengeluarkannya karena proses pembangunan dapur belum selesai. Alhasil, sampai pembangunan dapur selesai, zakat ini tak kunjung dikeluarkan juga karena keburu habis teralokasikan ke pembangunan dapur. Aku dan istriku langsung duduk terdiam, mungkin Allah mengeluarkan secara paksa 2.5% yang seharusnya dikeluarkan bulan lalu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan 2.5% malam itu juga untuk disumbangkan ke masjid Al-Falah di dekat rumah. Niatku bulan lalu memang ingin menyumbangkan 2.5% untuk pembangunan masjid Al-Falah yang tak kunjung selesai.  Aku memberikan pengertian ke istri “apapun yang terjadi untuk sebulan kedepan, Bismillah. Niat kita baik, zakat ini harus tetap dikeluarkan. Kalaupun keuangan kita kurang di tengah jalan, biar Allah yang membantu kita. Tapi kita harus yakin bahwa Allah pasti memberikan jalan.

Subhanallah, Allah memang Maha Pemberi Rejeki. 11 hari sudah berlalu, Alhamdulillah, sampai detik ini aku menuliskan coretan ini, kami berdua masih dicukupkan rejekinya oleh Allah yang Maha Mengetahui kesulitan hamba-Nya. Disaat yang sama, istriku sudah beberapa kali mendapatkan panggilan dari salah satu perusahaan Jasa terkemuka di daerah TB. Simatupang. Akupun beberapa kali mendapatkan rejeki tambahan dari pekerjaan sampingan. Syukur, ini yang selalu aku ingatkan terhadap istriku. Berapapun, apapun, yang kita dapat selama ini, itu adalah rejeki dari Allah.

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengingatkan kami berdua untuk mengeluarkan kewajiban yang seharusnya kami keluarkan.



--
http://bahartea.blogspot.com

Friday, May 8, 2009

Robb, Bukakan Pintu Hatinya….


Hampir setiap minggu aku memang selalu menyempatkan diri untuk menelepon keluargaku di Cikarang, pertanyaan yang terlontar pun hampir sama hanya seputaran kabar, sekolah, ada perkembangan apa beberapa hari terakhir. Itu memang sudah menjadi rutinitasku untuk mengontrol keluarga di Cikarang terlebih disaat aku telah menikah. Dalam bertelepon, aku memang selalu bergantian lawan bicara, terkadang dengan Emi (ibu), Arul, Yayah, kadang Abah (bapak).

Saat aku menanyakan tentang sekolah ke Yayah, diujung pembicaraan adikku yang satu ini ingin menyampaikan sesuatu tetapi seperti orang gugup atau kebingungan, dengan suara berat dia bilang bahwa sudah satu bulan terakhir ini dia tidak di support lagi uang sekolah oleh adikku Rita (adikku yang usianya terpaut satu tahun denganku, sudah menikah beberapa tahun lalu). Malahan, di beberapa bulan terakhir, uang yang seharusnya dibayarkan penuh sekitar 250 ribu pun, terkadang di berikan bertahap dan tidak mencapai 250 ribu. Parahnya lagi, adikku Rita ini menceritakan kondisi keuangannya ke ibu dan meminta pengertiannya dan kalau Yayah ini bisa dibantu keuangannya dari uang hasil warung atau WC umum, kontan saja aku marah. Bukan masalah adikku yang sudah tidak disupport lagi keuangannya yang membuatku jadi marah, tapi karena dia bercerita ke ibu dan kalau bisa Yayah ini dibantu keuangan sekolahnya dari hasil warung itu. Lebih parahnya lagi, adikku ini meminta status Yayah ini tidak diceritakan kepadaku.

Aku sangat sangat ngerti dengan kondisi keuangan adikku ini, dan aku tidak akan marah sedikitpun andaikan adikku ini bercerita dan terus terang dengan kondisi yang ada, aku bukanlah orang yang tega memaksakan adikku untuk tetap membantu menyekolahkan Yayah kalau memang kondisi keuangannya tidak memungkinkan, dan aku pun tidak akan marah andaikan Rita ini tidak meminta ibu untuk membantu biaya yayah dari hasil warung atau uang WC umum. Sepintas aku berfikir, salahkah aku mendidik adik-adikku selama ini? Memang untuk Rita, aku sendiri merasa tidak mendidiknya karena kita hanya terpaut setahun, yang mengontrol aku dan Rita saat itu adalah kakakku.

Robb, kenapa disaat aku ingin punya cita-cita Mulia selalu ada saja kerikil-kerikil kecil yang menjadi masalah? Aku sangat sangat ingin memberikan pendidikan terbaik untuk Yayah, aku ingin dia ikut program Bimbingan Belajar untuk menyiapkan diri satu tahun ke depan untuk ikut tes saringan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Aku berharap adikku yang satu ini bisa membuktikan dirinya di mata keluarga bahwa adikku ini bisa menjadi orang yang bisa diandalkan dan jauh lebih sukses dari kakak-kakaknya. Dokter, itu harapan dan cita-citaku untuk seorang Yayah, entah terlalu banyak berharap atau tidak, tapi yang jelas andaikan Yayah bisa masuk Kedokteran, setidaknya itulah bentuk nyata manfaat ilmu yang selama ini dia dapat dari dunia pendidikan dan bisa diterapkan di lingkungan sekitar terlebih untuk keluarga sendiri. Semoga saja Allah memberikan jalan untuk cita-cita adikku ini.

 

“Dede, andaikan dede membaca tulisan ini, aa berharap dede bisa menggapai dan menaklukan cita-cita yang selama ini dede persiapkan.”


--
http://bahartea.blogspot.com

Monday, April 27, 2009

Ku Bersyukur

Beberapa hari lalu ada sms dari salah satu adikku "A si arul dititah belajar tara daek wae asal dititah malah ngambek ka emi jeung ya2h. Malah ayeuna mah meulian cincin2an anu gopean. Geus aya 3 cincin na."

Hmm. sedih sekaligus marah, mungkin itu ungkapan yang cocok untukku saat ini. Sedih karena dia memang sudah kehilangan figur kakak-kakaknya yang kini sudah mulai mencari jati diri masing-masing. Adikku ini memang terpaut jauh umurnya dengan adik-adikku yang lain. Buatku, anak bontot itu manja hanya sebatas mitos. Tapi membaca sms dari adikku ini, ternyata bukan masalah manja atau bukan, tetapi seberapa jauh orang-orang yang bersinggungan dengan arul ini berperan. Lingkungan dan cara bersosialisasi yang salah lah penyebab utama kenapa adikku ini cukup jauh melenceng dari kakak-kakaknya.

Tapi aku bersyukur memiliki adik-adik yang bertanggung jawab (secara tidak langsung), sampai-sampai adikku yang sedang kuliah di Politeknik ini menyempatkan menulis email untuk memberikan pandangan, saran tentang adikku ini. Berikut ini emailnya:


Pertimbangkan kembali….

 

Sebelum aa memutuskan untuk tidak menyekolahkan si arul, silahkan aa pikir kembali dampak apa yang akan diterima si arul jika dia diberhentikan sekolah?

1.       Dirumah tidak ada yang mengontrol si arul

2.       Penilaian lingkungan terhadap dia mungkin akan membuat dia merasa beda dengan yang lain.

3.       Selama dia diberhentikan sekolah, kegiatan apa yang akan dia lakukan selama mengisi kekosongan hari-harinya?

4.       Bisa jadi dia akan melakukan sesuatu yang nekat

5.        Ini yang paling penting, apa yang ada dipikiran emi kalo si arul diberhentikan sekolah sama saudaranya sendiri?

Poin 1 & 5 yang harus aa pertimbangkan lebih dalam lagi

waktu bambang dibentuk sama aa, pada waktu itu ada rasa benci, kesal, dendam sama aa. Rasanya ga enak jadi anak yang selalu dapat tamparan, selalu bersitegang dengan saudaranya sendiri, tinggal di rumah yang "broken home". Sejak SD – 2 SMA bambang punya pikiran seperti itu.

Setelah menginjak kelas 3 SMA, bambang renungkan kembali apa yang sudah didapatkan selama ini.

 Setidaknya bambang beruntung punya pengalaman pahit waktu dulunya, manfaat yang bambang rasakan bambang punya pola pikir yang beda ketimbang teman2, bambang lebih bisa bertahan hidup daripada teman2, mungkin kalo bambang dulunya ga dapat pengalaman itu bisa saja sekarang bambang ga bisa bertahan hidup sendiri.

Dulu bambang pernah menampar habis-habisan si arul waktu dia masih kecil Cuma karna dia cengeng.

Tapi setelah bambang menginjak kelas 3 SMA, bambang mencoba flash back semua kejadian waktu dulu. Bambang punya niat, "bambang ga bakal mendidik adik2 bambang dengan cara kekerasan seperti dulu bambang dapatkan, bambang yakin bisa merubah suasana dirumah menjadi lebih tenang dengan tidak ada kekerasan dirumah", itu niat bambang a…

Bambang berani nampar si arul kalo dia udah kelewat batas. Disaat bambang nampar, hati kecil bambang nangis a… rasanya miris, ga tega. Sampai sekarang bambang merasa berdosa sama si arul atas apa yang bambang lakukan sama si arul.

Tapi kenyataan berbicara lain a..

Kita sekarang tau si arul mendapat nilai hancur, berani melawan emi.

Sebelum kita menyalahkan si arul atau aa menyalahkan bambang & umi, coba kita pikir lagi kenapa dia bisa seperti itu.

Si arul berani melawan emi, mungkin dulunya kita2 pernah ngasih contoh di depan dia kalo kita pernah berbicara kasar sama emi. Si arul bisa berbicara kasar sama emi mungkin karna dulunya kita pernah berbicara kasar di depan si arul, sehingga sekarang dia mencontohnya.

Bambang pribadi ga setuju kalo si arul diberhentikan sekolah.

Kita semua tau aa yang pegang kendali dirumah, apapun yang aa bilang pasti orang rumah ga ada yang berani menentang karna hidup mereka ada ditangan aa.

Jangan sampai ada anggapan mentang2 aa yang menyuplai keuangan dirumah, aa jadi memutuskan sesuatu hanya sepihak.

Kalo aa memberhentikan si arul, mungkin si arul akan melihat sosok aa dimata dia jadi negative. Udah mah ga ada figure dirumah, aa malah memutuskan sesuatu hanya sepihak.

Bambang memikirkan kondisi emi, kondisi psikologis si arul.

Bambang ga mau antara adik2 aa jadi ada jarak sama aa karna mereka takut akan seorang sosok "aa".

Aa lebih tau, bambang yakin ada cara lain untuk membuat "shock terapi" selain memberhentikan sekolah si arul.

Itu hanya pendapat bambang, bambang mau aa bisa mempertimbangkan kembali keputusan aa.

Pasti ada keputusan yang lebih bijak , pasti ada cara lain yang lebih halus tapi "ngena" ke mental dia.

 



--
http://bahartea.blogspot.com

Monday, April 20, 2009

Here it is

Here It Is

Karena kesibukan sampai blog ini tidak terurus dan tidak pernah
diupdate. Ada banyak hal yang aku rasakan di awal tahun 2009 ini.
Alhamdulillah kini aku telah keluar dari predikat Jomblo. Saat ini
istriku tercinta, Perdanawaty atau biasa ku sapa dengan panggilan
'ade' ini merupakan karunia dari Allah untukku. Kenapa? Dua tiga tahun
ke belakang, aku seperti orang yang boleh dibilang 'kebakaran jenggot'
kejar sana-sini, cari sana-sini untuk mencari pasangan hidup. Semakin
dicari, ternyata semakin susah didapat.
Hari demi hari, bulan berganti bulan, sampai bilangan tahun pun
berganti, aku masih belum menemukan 'pendamping hidup' yang terbaik
menurut sudut pandang aku dan keluargaku di saat itu. Sampai akhirnya
aku merasa cukup lelah, aku merenung, berdoa dan pasrah sama Allah.
"Robb, aku bukan tidak berusaha untuk mencari pasangan hidupku, tetapi
sampai saat ini aku meminta kepadamu, untuk memilihkan seseorang yang
terbaik menurut-Mu belum juga menunjukan tanda-tanda. Aku
sangat-sangat yakin dengan kuasa-Mu ya Allah" Doa itu selalu aku pinta
di penghujung sholatku.
Akhirnya untuk kesekian kalinya aku mengagumi skenario Allah ini.
Suatu saat setelah aku selesai sholat di kantor, kebetulan aku jadi
Imam dan ada beberapa orang jadi makmum. Selesai berdo'a, aku
dikejutkan dengan pertanyaan salah satu makmum perempuan, Lina atau
tepatnya Carlina Agitha. Di kantor, aku memanggilnya "Dek". Singkat
cerita, di Mushola kantor lah Lina ingin memperkenalkan saudaranya.
Dengan waktu perkenalan dan masa penjajakan kurang dari satu tahun, ku
beranikan diri untuk melangkah ke arah pernikahan. Di tanggal 14
Desember 2009, satu momentum besar kujalankan, Menikah. Sampai aku
menulis blog ini sudah 124 hari atau 4 bulan 4 hari tepatnya aku
menjalani hidup sebagai seorang kepala keluarga. Sayang, doakan aa
agar bisa menjadi imam yang baik yah. Semoga Allah selalu menjaga kita
berdua. Mendengar omongan orang mungkin tidak pernah ada ujungnya.
Dulu waktu masih jomblo, orang dikantor selalu menyindir "mana cewek
lu har? Sama siapa sekarang". Dan sekarang disaat aku sudah menikah,
pertanyaan berikutnya yang sering terlontar dari teman-teman
disekelilingku "udah hamil belum istri lo? Istri udah isi har? Udah
berapa bulan har?" terkadang omongan orang ini masuk juga ke pikiran.
Memang sampai saat ini istriku belum hamil juga, ada memang keinginan
untuk bisa punya anak secepatnya biar di rumah tidak kesepian, tapi
siapa juga yang bisa melawan kuasa Allah. Aku pribadi berpendapat
mungkin istriku terlalu cape karena jarak tempuh Depok – Kantor sekali
jalan kurang lebih 36 km, dan naik motor pula. Saat ini, berbagai
usaha aku coba agar istriku tidak terlalu cape. Untuk berangkat kerja,
aku antar istriku sampai ke stasiun, pulang kerja baru barengan naik
motor. Tapi sekali lagi, aku dan istri hanya bisa usaha dan ikhtiar,
Kalau Allah memang belum mengijinkan istriku hamil, dengan cara apapun
tidak akan ada yang bisa melawannya. Saat ini aku dan istriku tercinta
hanya bisa berdo'a sambil tetap berusaha untuk bisa punya momongan
secepatnya, masalah hasil 100% aku serahkan kepada yang Maha Gagah,
Allah SWT.
Sisi lain, tidak terasa adikku Bahrul Maulana RS dia sudah kelas V SD,
rasa-rasanya baru kemarin dia masih kelas 3, tidak terasa waktu begitu
cepat berlalu. Adikku yang lain Yayah Andriyani, saat ini kelas 2 SMA,
yang artinya tahun depan dia sudah harus mempersiapkan waktu dan
tenaganya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Aku berharap
dia jadi Dokter, setidaknya di antara adik-adikku yang lain ada lah
yang bisa mengerti tubuh ini dan penyakitnya. Aku ga muluk muluk
berharap penuh agar Yayah bisa jadi Dokter. Kalau aku banyak berharap
nantinya kejadian seperti taun lalu dimana adik-adikku tidak ada satu
pun yang bisa membuktikan mimpi dan cita-citanya (melenceng jauh dari
apa yang aku harapkan dan impikan) bisa terulang lagi. Makanya untuk
kali ini, biar Allah lah yang punya Hak Proregatif mau dibawa kemana
adik-adikku ini. Aku hanya sebatas menunjukkan jalan dan jadi
penyemangat untuk meraih cita-citanya.
Adikku yang lain pun, Umi Kulsum RS, saat ini dia menjalani
perkuliahan di Keperawatan Unjani. Cita-cita ini boleh jadi 1800
melenceng jauh dari apa yang adikku harapkan, syukur saat ini dia
termotivasi dari beberapa dosennya untuk bisa 'fight' dengan
perkuliahannya. Ada satu cita-cita luhur yang di inginkannya, yah
semoga saja Allah membimbing langkah dan kemantapan hatinya, Amiiin.
Ada kejadian yang lumayan membuat aku jadi kepikiran setelah aku
membaca sms dari kakak. Semenjak si Nai (panggilan untuk Umi) ini
pulang bareng dari Bandung setelah liat lahiran istri kakak, sampai
blog ini dibuat dia belum bersilaturahmi lagi ke rumah kakak, dia
lebih merasa nyaman tinggal di kosan ketimbang main ke rumah kakak.
Padahal dengan sering main ke rumah kakak, minimal ada banyak ilmu
yang bisa dimanfaatkan atau pun bisa jadi bekal perkuliahan dia. Hmm,
sampai hari ini pun aku ingin tau jawabannya, tapi adikku ini belum
bersedia memberikan keterangan sepatah kata pun kenapa sampai terjadi
hal itu.


--
http://bahartea.blogspot.com

Friday, February 1, 2008

Bambang, Kusayangkan Sifatmu

Tadi malam, ada diskusi by sms yang cukup panjang antara saya dan Kakak yang isinya tidak lain hanya untuk membahas salah satu Adik yang saat ini sedang menjalani kuliah di Bandung. Dia lah Bambang, seorang adik yang mencoba belajar memahami diri dan kemampuannya. Inilah kurang lebih isi SMS dari Kakak.
 
 
"Ke bejaan si ambang hirup kudu jujur jeung terbuka. Manehna lbh resep ngabeakeun ongkos keur balik drpd dtg ka imah, ka imah lamun aya perlu eta oge pasti di ongkosan, manehna embung sengsara naik angkot, pernah rek ka ciwidey ku siteteh dibere 100rb ka cimahi nyampeurkeun nyokot sepatu ngakuna dibere 50rb, ku aa dibere deui"
 
"Sieun karna teu asup akmil nyalahkeun aa, kabeh diimah nyalahkeun pdhl sibambng teu bs nanaon, rek kost teu carita ngakuna nganteur babatrn ujug2 menta lemari selimut galon alat mandi clana jero eta lewat sms teu dtg sorangan pdhl titah cicing di cimahi atau dibdg manehna sorangan apal kos dicmi can aya nanaona manehna menta teu sopan."
 
"Mimiti daftar geus kurang brt bdn, geus dititipkeun trus jasmani lari jeung postur kurang geus dibantu nepi ka Mental Ideologi ku aa diantepkeun da gampang asal bs jwb nu logis jeung teu tlbt Pki pasti lewat, ngmng ka aa cenah bs jawab singkat padat jelas, trnyata teu lulus.. Ka aa teu carita deui, Trnyata ngmng ka mang masim cenah manehna ditanya ku tim penguji ngaku lamun diurus ku lanceuk ti bdg, tim pasti nanya kukondisi fisik kurang bs lolos...pdhl sibambng diinterogasi ngaku. Awalna geus salah gaul jeung rasa ingin tauna kurang, rek daftar oge ku aa titah buka koran heula eta karna minimna pengetahuan, manehna nu rek daftar masa teu neangan informasi sorangan."
 
"Aa karak ngadenge ayeuna lamun gagalna krn cadel, mustahil MI nguruskeun suara cadel eta lain bagiana, eta urusan kesehatan.. Cadel sibambng teu 100% msh bts toleransi nu penting artikulasi jelas, lamun nyebt R jadi L eta karek cadl."
 
"Tadian aa moal ngmng ngan m.masim nanyakeun di m.bunin ku aa dicrtkn tnyata crtna sibambng kitu cenah."
 

"Kamari aa geus tlp ka imah mlmna disms AMBANG GEUS MAHASISWA AYA NANAON ULAH CICING, MUN MSH AYA PERLU SMS MOAL JD TUNGGUANEUN, ULAH NEPI AYA SMS KRN CILAKA. Karek bs mere kabar td eta oge krn bahar nelp jeung aa nelp+sms. Aa teu bs mere arahan jeung teu bs merhatikeun TLna krn tara ka imah, pernah diimah titah jmpt aa ka cmi teu daek alsn tiris TI DINYA AA RAGU KEKEMAMPUANA BS MANDIRI"

 

"Tdna aa niat siumi jd kowad tp matana minus 5. Hayang aa umi jadi bidan sakola dibdg supaya imah eta jd tmpt praktek, ke siyayah kuliah management rmh sakit keur ngelola lamun aya rejeki buat rmh bersalin. Mimiti asup aa sanggup tp semesteran 5jtan sieun teu kabyr"

 

"Sibambg teu cadel parah, loba nu siga sibambg malah r jd l sibambg msh bts normal."

 

"Lamun cara sibambg kitu wae moal bakal jd jelema, jelemana loba gengsi mbung cape mbung hese teu loba nanya lamun dihareupan iya iya tp pelaksanaana salah.."

 
Di saat diminta penjelasan, dia bilang akan dijelaskan di email, dan ini lah jawabannya.
 
aa kenapa bahas masalah akmil lg???
apa karena motor??
kalo masalah a bayu, sepertinya bambang ga harus ngejelasin lg.
bambang siap dipukulin sama aa, karna sosok aa yang bambang panut sangat bambang kagumi. tapi kalo a bayu yang marah, rasanya dia ga pantas marah.
bambang bohong sama dia???
apa selama ini dia jujur sama dirinya??
apa selama ini dia jujur sama keluarganya??
a bayu menilai bambang seperti itu seakan2 diri dia paling benar.
mungkin dia sms seperti itu apa cuma sebagai alibi dia supaya dia bisa dikatakan ikut membantu dalam biaya kuliah bambang???
bambang mengaku salah tentang sms yang aa  forward,
bambang sangat terima kalo aa marah, bambang siap dipukul, bambang siap ditampar sama aa, karena diri aa memang benar, ga seperti a bayu.
bambang sedang belajar memperbaiki diri sedikit demi sedikit,.......
maaf a, bambang bicara seperti itu bukan berarti bambang ga sopan, tapi itulah faktanya.
sekarang kalo sikap bambang kelihatan NEGATIF dimata a bayu dan aa, sekarang a bayu suruh instropeksi diri, apa diri dia sudah benar???
semenjak bambang tinggal dibandung, bambang sedang berusaha memperbaiki diri untuk tidak mengecewakan aa, tapi masalah a bayu yang kecewa, mungkin BAMBANG DAN BAYU mempunyai kesamaan sifat.
semenjak dari ciwidey, bambang ga bisa melakukan aktifitas secara maksimal, karna penyakit yang ga bambang kira.
waktu bambang ngambil jaket, bambang juga ga ikut acara disiksanya, karna fisik bambang ga boleh terlalu capek,....
itu penjelasan dari bambang.
bambang minta maaf kalo bambang ga sopan, tapi isi email diatas itulah menurut pemikiran bambang.
bambang tunggu balesannya.................        
 
Diskusi ini menjadi agak panjang karena jadi bias membahas kepribadian sang adik ini. Sebetulnya, masalahnya sangat kecil, hanya gara-gara Adik ini diberi amanah untuk mengembalikan motor yang dipinjam untuk dikembalikan tapi sampai hari senin belum ada berita juga. Tentu saja, saya dan kakak pun khawatir, kemana sang Adik ini. Bukan apa-apa, kekhawatiran kita berdua kebetulan sama, takut kalau-kalau adik ini celaka di tengah perjalanan, tapi tidak memberitahukan kabar karena takut kena marah atau omel dan dia coba berusaha perbaiki motor itu sampai selesai baru dikembalikan ke Kakak.
 
Permasalahannya, adik satu ini padahal punya HP. Apa susahnya untuk memberitahu lewat SMS (takut kalau telepon mahal). Bahkan kalau seandainya pulsa pun habis, apa salah juga minta pulsa ke temen-temennya hanya untuk satu kali SMS dan memberi kabar. Menganggap remeh, menggampangkan satu masalah mungkin ini kata yang paling cocok untuk menggambarkan seorang Adik ini. Bagi dia saat itu mungkin tidak menjadi masalah karena baik-baik saja. Tetapi Saya dan Kakak menjadi cukup stress dibuatnya karena takut terjadi sesuatu di perjalanan. Tapi saya berfikir balik, apa dia sempat berfikir jadi pikiran atau tidak bagi saya dan kakaknya.

Sedikit cerita ini sengaja di upload untuk Bambang, biar jadi bukti bahwa kita sebagai kakak dari Bambang memang peduli. Semoga dengan kejadian ini, bisa membuat Bambang menjadi lebih dewasa dalam bersikap, berfikir dan berbuat.

Uploaded On Friday, 1st February 2008
 
 

Wednesday, August 1, 2007

Adikku ... Berjuanglah !!!

Hari ini tanggal 1 Agustus yang tinggal dua hari lagi menuju hari ulang tahunku yang ke-28. Di tahun ini mungkin tahun-tahun yang penuh tantangan sekaligus cobaan untukku. Adikku yang terkecil, si Arul mungkin belum begitu kompleks untuk dinilai sisi pendidikannya karena baru saja menginjak kelas 4 SD. Di atasnya si Arul, Yayah Andriyani adikku yang sangat polos dan lugu ini baru saja mengalami kegagalan masuk sekolah SMU 1 Cikarang, nilainya kurang 0,5 dari standar kelulusan yang ditentukan. Sedih memang, tapi aku sudah sangat yakin dan percaya, mungkin Allah punya skenario lain untuk adikku yang satu ini. Akhirnya Yayah masuk ke SMU Cikarang pusat yang notabene SMU ini masih terbilang relatif baru, belum terlalu terlihat kualitas dan sepak terjangnya di dunia pendidikan.
Adikku yang lain, di atasnya Yayah, Umi Kulsum. Dia baru saja naik ke kelas 3 SMU, yang artinya sebentar lagi (bagiku, setahun adalah waktu yang cepat di dunia pendidikan) adikku akan lulus, entah akan meneruskan kemana adikku ini, dan akupun belum tau apakah finansial yang aku punya bisa dan sanggup untuk meneruskan pendidikan dia (doakan saja Umi, semoga rejekimu di mudahkan Allah).
Yang paling aku perhatikan saat ini adalah adikku Bambang, dia saat ini benar-benar dalam kondisi tidak stabil dan mengalami kebingungan luar biasa. Setelah mengalami kegagalan masukmenjadi seorang Taruna, seolah adikku satu ini seperti tenggelam dari permukaan. Ada rasa penasaran dalam dirinya untuk mencoba daftar Akabri di tahun depan, tetapi bukannya aku tidak yakin. Kalau memang adikku ini sangat kuat pendiriannya untuk mencoba masuk di tahun depan, seharusnya kegagalan kali ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk dia, bukan untukku. Dan itu seharusnya tetap terlihat dari latihan dia yang tidak berhenti begitu saja semenjak mengalami kegagalan. Tapi entahlah, semua ini hanya dia sendiri yang bisa mengukur kemampuan dirinya untuk bisa membuktikan apakah dia benar-benar ingin mencoba di tahun depan atau tidak.
Permasalahan yang paling penting saat ini adalah adikku ingin mencoba melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi, jurusan apa yang akan diambil pun sepertinya masih menjadi kebingungan. Sempat terbersit dalam pikirannya untuk mencoba jurusan Teknik Informatika, tetapi setelah aku coba jelaskan bagaimana perkuliahannya dan mata kuliah yang minimal harus bisa dipahami, dia langsung berubah haluan. Mencoba browsing sana-sini, sempat tertarik dengan Desain Komunikasi Visual Unikom di Bandung, aku pun mencoba memberikan gambaran bagaimana perkuliahannya dan mata kuliah apa yang harus dikuasai nantinya. Setelah mendapatkan penjelasan, yang ada di adikku malah menjadi bertambah bingung, karena adikku sendiri menyadari sepenuhnya tidak memiliki kemampuan atau bakat seni yang terlihat. Mungkin karena lokasinya di Bandung pula lah yang membuat adikku tertarik untuk mengambil jurusan DKV ini sekaligus dia bisa mencoba masuk Akabri tahun depan dengan lokasi pendaftaran di Bandung.
Aku pribadi sempat menyarankan untuk kuliah di Jogja. Kenapa harus Jogja? bukan tanpa alasan aku mencoba memberikan saran untuk dia kuliah di sana. Beberapa alasan itu antara lain: 1. Mendidik adikku untuk benar-benar bisa mandiri di negeri orang (Jogja), disana tidak ada satupun keluarga atau saudara. Bila adikku di Bandung, setidaknya dia masih punya kakak yang bisa dijadikan objek ketergantungan di kemudian hari (walaupun belum tentu itu terjadi).
2. Alasan lainnya adalah biaya hidup yang jauh lebih murah, yang secara tidak langsung aku bisa mengatur cash flow yang tidak terlalu kompleks. 3. Aku berharapa setelah dia bisa mengenali lingkungan Jogja, dia bisa mengasah ulang kemampuannya untuk mencoba melanjutkan dari D3 ke jalur Ekstensi UGM.
Semua itu hanya keinginanku, tetapi hasil akhir ditentukan oleh adikku sendiri. Aku tidak mau ada unsur paksaan seolah-olah aku lah yang men-drive dia untuk masuk ke Universitas A, Universitas B atau yang lainnya. Biarkan adikku sendiri yang menentukan mana yang akan dipilih nantinya. Asalkan di kemudian hari tidak ada penyesalan, aku setuju saja.
Yang membuat aku terharu saat ini adalah ketika tadi pagi aku mencoba menelepon adikku ini dan aku berikan penjelasan ke dia bahwa apapun yang bambang pilih nantinya, berusahalah dengan sekuat tenaga dan maksimalkan kemampuan yang ada. Pelan tapi terdengar pasti di ujung telepon aku mendengar adikku menangis, aku sangat paham mengapa adikku ini bisa menangis. Mungkin dia kaget bahwa semua rencana yang aku sudah buat tiap tahunnya selalu gagal dan kembali ke nol untuk bisa mendapatkan finansial yang memadai untuk biaya sekolah dan kuliah adik-adikku. Aku memang tidak pernah mengharapkan apapun dari adikku. Aku tidak ingin mendikte semua adik-adikku untuk tunduk atau patuh terhadap perintahku, sedikit saja yang aku inginkan dari mereka, aku ingin bukti nyata sampai sejauh apa hasil mereka sekolah dan kuliah. Belum apa-apa sepertinya aku sudah diperlihatkan dengan hasil yang 'kurang membanggakan'. Adikku Yayah yang tadinya aku harapkan bisa masuk ke sekolah SMU ku dulu, ternyata hanya tinggal impian. Adikku Ummi pun sama, aku mengharapkan dengan ke-smart-an nya dia bisa masuk ke sekolah negeri yang lebih baik, tetapi mengalami hal yang sama. Dan ternyata adikku Bambang pun, dia gagal membuktikan diri menjadi seorang Taruna. Entah skenario apalagi yang Allah siapkan untuk keluargaku. Saat ini aku tidak pernah menuntut macam-macam terhadap semua adik-adikku. Pintaku hanya satu, buktikan bahwa keluarga kita yang jauh dari kecukupan bisa 'keluar' dari permasalahan hidup yang selalu membelenggu dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Ya, permasalahan itu adalah finansial dan kondisi keluarga yang belum memungkinkan untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Robb, aku sangat yakin dan percaya dengan Kekuasaan-Mu, aku sangat yakin dan percaya dengan Kebesaran-Mu. Kalau keluargaku ini memang di uji di hadapan-Mu, berikan kami kekuatan untuk bisa menjalani semua ujian dari-Mu. Berikan kami jalan yang bisa membuat keluarga kami lepas dari 'jaring' hidup yang selama ini kami alami. Berikan kemudahan bagi kami untuk bisa bangkit menuju hidup yang lebih baik. Jauhkan keluarga kami dari kekufuran dan kemiskinan. Mudahkan rejeki keluarga kami, jadikan adik-adikku orang yang bisa membahagiakan kedua orang tuaku, selalu membuat kedua orang tuaku tersenyum bangga. Angkat penyakit ibuku ya Allah. Amiin.

written on Wednesday, August 1, 2007. 10.06 PM

Sunday, May 20, 2007

Pencarian Hidup dan Jati Diri

Pencarian Hidup dan Jatidiri

Ga kerasa dari tanggal 5 November 2001 sampe hari ini gua nulis blog, gua udah kerja di sebuah perusahaan asuransi joint venture antara jepang dan indonesia selama 5 taun 5 bulan 20 hari. Hmmm, udah cukup bosen memang, karena ada banyak perubahan yang cukup drastis yang
membuat gua jadi ngga nyaman di kantor. Apa alesannya mungkin ga penting, tapi yang jelas yang gua pelajari, kalau memang diri ini sudah ngga nyaman dengan lingkungan pekerjaan, dan langkah-langkah yang gua coba terapkan untuk memperbaiki komunikasi dan hubungan
emosional sudah dilakuin, cara terakhir memang gua harus keluar dari zona yang ada saat ini. Dengan kata lain gua harus pindah kerja. Pencarian kerja terakhir yang gua coba adalah IFC, sebuah lembaga dibawah naungan World Bank yang bergerak di Private Sector. Interview
pertama berjalan dengan baik (menurut gua), sampe akhirnya datang lah saat interview kedua, proses ini pun berjalan lancar (masih menurut versi gua). Interview ketiga pun demikian, sampe akhirnya gua sampe di interview ke empat berhadapan dengan seorang petinggi IFC yang saat
itu menjabat Office Director kalo ngga salah. Setelah interview ke empat ini, lama ngga terdengar berita dan kelanjutan dari proses interview ini. Sempet bertanya-tanya mungkin ini pertanda ngga diterima. Tapi tetep berpositif thinking, karena mereka sempet ngasih tau bahwa proses ini cukup panjang dan cukup makan waktu. Tapi sampai kurang lebih 2 bulan setelah proses interview terakhir, ternyata belum ada berita juga. Hati ini sudah merelakan mungkin memang belum rejekinya untuk bisa bergabung dengan IFC. Sampai akhirnya gua beraniin untuk nelpon langsung ke IFC, setiap di telepon selalu orang yang bersangkutan ga bisa dihubungi. Sampe akhirnya dapet kabar dari temen di World Bank bahwa ada orang baru di IT yang baru gabung dengan IFC. Berdasarkan kabar, dia katanya lulusan luar negeri. Hmm, ok, se-enggaknya diri gua bisa sedikit berbangga hati gua bisa disejajarkan dengan orang yang ngenyam pendidikan dan kuliah di luar sana.

Saat ini lagi coba hunting lagi, tapi tetep ati-ati, ngga gerabak-gerubuk mentang-mentang udah ga betah di kantor sekarang dan mentang-mentang udah ga keterima di IFC jadi serobot sana serobot sini. Karena sekali gua masuk ke perusahaan yang baru dan gua merasa nyaman dan cocok, mungkin itu pelabuhan terakhir untuk pencarian kerja untuk berlayar lagi ke pulau yang baru :) Semoga saja Allah tetap denger apa yang gua mau, gua pengen bisa buktiin bahwa dengan segala keterbatasan, diri ini bisa menjadi pribadi yang berguna minimal buat adik-adik dan ibu tercinta di rumah. Apa belum kepikiran nikah? ko yang dipikiran adik-adik dan ibu doang? Jawaban ini bisa jadi panjang banget. Mungkin suatu saat gua akan tulis khusus kenapa sampe saat ini belum juga untuk melakukan sunnah rosul itu.

Kenapa gua pengen pindah kerja, alesannya pasti sama dengan kebanyakan orang yang pada pindah kerja. Cari gaji yang lebih gede, bukan berarti gua ga bersyukur dengan rejeki yang ada. Tapi beban keuangan yang harus ditanggung saat ini sudah cukup ngos-ngosan. Empat orang adik dan seorang ibu di rumah ternyata membutuhkan keuangan yang cukup besar. Terlebih beberapa bulan terakhir ini. Adik paling kecil mau naik kelas ke kelas 4, di atasnya dia lulus SMP dan mau masuk SMA, jelas ini pun butuh uang yang ngga sedikit. Di atasnya dia naik kelas
ke kelas 3 SMA, diatasnya dia udah lulus SMA dan berencana ingin ambil jalur AKABRI. Untuk adik yang akan ke AKABRI ini, kabar terakhir setelah melalui proses interview tatap muka dan interview tertulis, namanya tidak lagi terdaftar di papan pengumuman yang berarti adik gua
ini gagal. Tapi setelah di tanya, dia bertekad untuk melanjutkan dan mencoba lagi tahun depan. Semoga saja niatnya ini tetap bulat dan tidak jadi berubah di tengah jalan nanti. Cukup sedih memang mendengar kisah adik yang satu ini. Bolak-balik ke Cijantung saja sampe pinjem-pinjem ke temennya. Saking udah ga ada uang untuk bolak balik lagi ke Cijantung. Belum lagi ngurus ini, itu dan perintil-perintil yang harus di urus dari mulai rt, rw, desa, kecamatan, polsek, polres.
Semoga saja tetep istiqomah dengan niat itu bang (Adik satu ini namanya Bambang).

Ada lagi cerita yang cukup membuat hati ini jadi miris sendiri. Beberapa minggu lalu gua coba beliin tas untuk adik gua yang SMP kelas 3 SMP dan kelas 2 SMA. Sedangkan adik yang kecil katanya udah punya tas hadiah dari undian Cuci Cetak Foto. Kalo adik yang paling gede dia
udah punya tas bagus dari taun-taun sebelumnya. Ternyata setelah gua pulang ke rumah, minta di tunjukin mana tas hadiah itu, ternyata tasnya robek kena paku yang akhirnya tuh tas ga bisa dipake. Akhirnya untuk tetep bawa tas, dia dipinjemin dari temennya Bambang sebuah tas.
Malu hati ini dengernya saat adik kecil bercerita tentang tasnya. Ingin banget rasanya beliin tas lagi. Tapi ternyata uang udah abis blas. Ga ada sama sekali. Malah untuk hidup sampe akhir bulan aja udah hampir ngos-ngosan dan belum jelas cukup atau ngganya. Akhirnya janji sama diri sendiri aja, begitu gajian ada. Gua akan langsung beliin adik gua tas, bila perlu gua ajak adik kecil ini ikut nyari tas, biar dia milih sendiri mana yang dia suka. Yang bikin miris sebenernya karna semua adik-adik yang lain udah pada punya tas. Sedangkan si kecil ini dikirain punya juga ternyata kondisi tasnya memprihatinkan.

Cerita keseharian seperti ini membuat gua jadi merasa bersalah sama diri sendiri, mungkin andaikan penghasilan yang ada saat ini jauh lebih baik, cerita tentang tas itu mungkin ga pernah ada. Cerita tentang kemauan sendiri, ada banyak hal yang pengen banget gua beli yang sebetulnya itu hal yang sangat wajar dan lumrah untuk dibeli karena emang gua sendiri membutuhkan itu. Di antara yang gua pengen beli sampe sekarang tapi belum kesampean, TV Tuner untuk laptop gua. Harganya sih 300 ribuan. Tapi setiap niat mau beli, selalu inget sama
yang dirumah, mana yang lebih perlu yah, kalo beli ini tar yang dirumah ada kebutuhan dadakan yang harus keluar uang segera. Peralatan lain yang pengen gua beli, WLAN Card, harganya pun sebetulnya ga mahal-mahal banget sekitar 300 ribuan juga. Tapi selalu terbentur dengan pikiran-pikiran itu, mana yang lebih perlu. Yang akhirnya sampe detik ini, barang-barang yang gua pengenin belum ada satupun yang kebeli. Hmm, entah kapan akan dibelinya. Tapi suatu saat dan mungkin dalam waktu dekat, kalau memang sudah yakin harus dibeli, pasti kebeli. Pengen juga beli kasur angin yang kaya temen kantor punya, harganya juga ga terlalu mahal, kalo ga salah 150 ribuan. Udah 3 hari ini tiap kali bangun tidur semua badan kesakitan. Ga jelas apa
penyebabnya, padahal badan ngga lagi sakit. Makanya kepikiran pengen beli kasur angin. Sempet terlintas dalam hati "bahar, lu tuh ya adik lu sendiri di rumah kasurnya udah tipis minta ampun, lu ga pernah beliin, lah sekarang lu pake acara pengen beli kasur angin segala di kosan, yang jelas-jelas cuma dipake untuk lu sendiri". Hmm, emang iya sih, adik gua yang kelas 3 SMA ini kasurnya udah memprihatinkan, ditambah sering kebocoran kalo lagi ujan, yang ada tuh kasur makin tipis aja. Insya Allah bang, kalo rejeki nya udah ada, tar beli yang empuk sekalian, Amiin.

Niat gua sih di taun 2007 ini, gua udah harus pindah kantor dari kantor sekarang. Semoga aja Allah membimbing gua ke arah ini. Toh niat gua bukan karena sakit hati dengan kantor yang ada sekarang, tapi memang gua pengen mencari income yang lebih baik dari sekarang. Dan ini pun untuk kebaikan semua keluarga gua juga. Ibu, terima kasih yang setiap hari tanpa putus selalu mendoakan, semoga Allah selalu membimbing ibu untuk selalu tetap di jalan-Nya. Amiin

About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"