Hari-hari yang kulalui setelah nikah begitu indah, benar-benar indah. Sampai tiba waktunya kami dikejutkan oleh kejadian percobaan perampokan di rumah kami, Depok.
Subuh itu, kami berdua memang menyengajakan sahur untuk puasa senin kamis. Setelah sahur, akupun bersiap mandi untuk sholat subuh dan persiapan kerja. Di rokaat pertama tidak ada gangguan sedikitpun, kami berdua khusyu. Di rokaat kedua, firasat hati ini entah kenapa tiba-tiba mendadak ngga enak. Aku mendengar ada suara motor menghampiri rumah. Pikirku, mungkin ini motor tetangga. Sejurus kemudian, aku dikejutkan lagi dengan suara pintu gerbang yang dibuka dengan sangat terburu-buru. Perasaan hati ini semakin ngga enak. Langsung saja aku percepat bacaan sholat subuh. Ruku, Tuma’ninah, Sujud, Salam. Setelah selesai salam aku langsung menghampiri jendela depan dan melihat apa yang terjadi. Begitu terkejutnya aku, ketika aku berusaha mengintip situasi di luar, ternyata ada orang berjaket hitam, memakai topi sudah berada di atas motor honda bebek sedang membuka paksa kunci kontak motor. Seketika itu juga aku membentak orang itu sambil refleks tanganku membuka slot pintu rumah. Ternyata orang yang aku bentak, malah balik membentak dan beberapa detik kemudian, aku diperingatkan dengan suara pistol yang membuat aku sangat terkejut. Di saat inilah aku baru teriak “Maling”. Apa yang kudapat? Ternyata aku malah di tembak untuk kedua kali dengan mengarahkan pistol itu ke tempat dimana aku berdiri. Alhamdulillah, Allah masih bersamaku. Peluru yang mungkin seharusnya menembus badanku, akhirnya menembus kusen pintu sebelah kiri.
Ngga berapa lamu tetangga rumah mulai banyak berkerumun menghampiri rumahku untuk menanyakan apa yang sesungguhnya terjadi. Hmm, buat aku ini sudah menjadi teror untuk masyarakat di perumahanku. 4 orang perampok dengan kenekatannya memasuki areal perumahan yang pintu aksesnya Cuma satu. Aku beharap ini kali terakhir ada insiden percobaan perampokan dengan senjata api di perumahanku. Rumah yang aku tempati yang sudah selayaknya jadi tempat istirahat, mencari ketenangan batin, sekarang malah berubah penuh dengan kecemasan dan ketakutan. Terlebih istriku yang sampai hari ini masih menjadi ibu rumah tangga. Aku takut sesuatu terjadi dan mengancam keselamatan istriku. Semoga Allah selalu menjaga istriku agar terhindar dari teror dan apapun yang mengancam keselamatan istriku.
Sehari kemudian, aku sibuk berbenah karena masih shock dan trauma dengan kejadian ini. Seketika itu juga aku memesan teralis jendela untuk dapur. Kebetulan rumah baru direnovasi untuk membuat dapur. Aku pun beli kunci disk brake dua buah untuk dua motorku. Dan aku juga beli kunci gembok yang baru untuk pintu gerbang rumahku. Cukup terkejut diri ini setelah mentotal jumlah uang yang harus aku keluarkan untuk membeli alat-alat itu. Jumlahnya kurang lebih 700.000. Nilai ini jumlahnya sama persis dengan jumlah yang seharusnya aku keluarkan 2.5% dari yang aku dapat bulan lalu. Padahal, seminggu setelah kami mendapatkan rejeki bulan lalu, istri sudah mengingatkan untuk mengeluarkan zakat ini, tapi saat itu aku belum mengeluarkannya karena proses pembangunan dapur belum selesai. Alhasil, sampai pembangunan dapur selesai, zakat ini tak kunjung dikeluarkan juga karena keburu habis teralokasikan ke pembangunan dapur. Aku dan istriku langsung duduk terdiam, mungkin Allah mengeluarkan secara paksa 2.5% yang seharusnya dikeluarkan bulan lalu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan 2.5% malam itu juga untuk disumbangkan ke masjid Al-Falah di dekat rumah. Niatku bulan lalu memang ingin menyumbangkan 2.5% untuk pembangunan masjid Al-Falah yang tak kunjung selesai. Aku memberikan pengertian ke istri “apapun yang terjadi untuk sebulan kedepan, Bismillah. Niat kita baik, zakat ini harus tetap dikeluarkan. Kalaupun keuangan kita kurang di tengah jalan, biar Allah yang membantu kita. Tapi kita harus yakin bahwa Allah pasti memberikan jalan.”
Subhanallah, Allah memang Maha Pemberi Rejeki. 11 hari sudah berlalu, Alhamdulillah, sampai detik ini aku menuliskan coretan ini, kami berdua masih dicukupkan rejekinya oleh Allah yang Maha Mengetahui kesulitan hamba-Nya. Disaat yang sama, istriku sudah beberapa kali mendapatkan panggilan dari salah satu perusahaan Jasa terkemuka di daerah TB. Simatupang. Akupun beberapa kali mendapatkan rejeki tambahan dari pekerjaan sampingan. Syukur, ini yang selalu aku ingatkan terhadap istriku. Berapapun, apapun, yang kita dapat selama ini, itu adalah rejeki dari Allah.
Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengingatkan kami berdua untuk mengeluarkan kewajiban yang seharusnya kami keluarkan.
--
http://bahartea.blogspot.com