Tuesday, December 23, 2014

6 Years Already

Robb, 
6 tahun sudah saya dan istri menikah, dan Alhamdulillah sampai detik ini Allah belum mengizinkan kami dikaruniai keturunan. Memang ada sesuatu yang kurang dalam rumah tangga kami, disaat kakak kami, adik kami, teman kami, tetangga kami sudah ada suara tangisan si kecil di dalam rumah yang memberikan warna dan nuansa lain di dalam rumah itu. 
Insya Alloh, saya dan istri 
Kami, selalu mencoba husnudzon dengan apapun ketentuan Alloh, mungkin Alloh ingin memberikan kesempatan kepada kami menjadi makhluk yang lebih pandai bersyukur dan menjadi makhluk yang lebih tough dalam menjalani kehidupan ini.
Mencoba mencari kesibukan untuk kami berdua, mungkin itu yang sedang kami jalani sekarang ini. Merayakan 6 tahun pernikahan kami di tanggal 14 Desember 2014 lalu, kami sengaja meluangkan waktu berdua untuk pergi ke Giri Tirta Resort, salah satu tempat rekreasi yang belum banyak diketahui orang banyak. Resort ini lokasinya tidak jauh dari Jakarta, persisnya ada di daerah Wanayasa, Purwakarta. Keluar tol Jatiluhur, ambil arah purwakarta kota, terus ke arah Wanayasa. 
Memang, di 6 tahun pernikahan ini, saya dan istri ingin lebih banyak merenung, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Siapa yang ingin merasakan ketenangan dalam berlibur, tidak ada salahnya mencoba objek wisata Giri Tirta Resort di Wanayasa ini.
Di tahun ini pula, usaha kami mengalami masalah gagal bayar. Memang tidak sedikit uang yang macet, sampai saya dan istri hampir tidak mempunyai tabungan sama sekali. Semoga usaha ini mendapat titik terang, ada jalan keluar dan ada mukjizat dari Alloh. Bagaimana tidak, usaha ini sudah macet dari 1 tahun yang lalu dan sampai sekarang belum juga ada pencairan. Kami sudah pontang-panting membayar utang yang sudah menggunung ke bank. Ya, untuk menjalankan usaha rental besi hollow ini saya memang memakai pinjaman dari bank. Saya harus siap mengambil resiko dalam berusaha. Semoga Allah selalu membimbing kami untuk tetap lurus di jalan-Nya.

Friday, September 12, 2014

Hadirnya Anggota Keluarga Baru

Rabu, 10 September 2014, malam sehabis isya, saya, istri, abang ipar pergi menjenguk Iis (kakak istri) di bidan langganan keluarga. Iis secara hitungan, memang waktunya melahirkan. Dia sudah di induksi dari jam 9 pagi. Sampai saya dan istri datang, masih di bukaan 9. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 1.30 tapi Iis masih dibukaan 9 dan ada sedikit masalah dengan posisi bayinya. Karna jam yang sudah semakin pagi, saya dan istri pamit pulang dilanjutkan dengan anggota keluarga lain yang menunggu. Sampailah pada keputusan Iis harus dibantu di-vacuum karna posisi bayi yang masih  belum ideal untuk keluar dari rahim. Jam 4 kami dikabari lewat bbm, kalau anaknya sudah lahir di RS Duren Tiga. Ternyata Iis di rujuk ke sana karna harus dibantu dengan vacuum sementara di bidan peralatannya tidak memadai. Kami berucap syukur karna sempat terlintas dipikiran jangan-jangan harus di caesar.

Lengkap sudah Iis dan Suami yang sudah menunggu kurang lebih 2 tahunan akhirnya dikaruniai anak juga. Ya, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang ganteng dan lucu. Di tengah-tengah suasana gembira ini, jujur, saya sempat membatin dalam hati "Ya Alloh, kakak-kakaknya sudah diberikan kepercayaan oleh Alloh untuk dianugerahi keturunan, tidak ada rasa khawatir lagi dalam diri dan keluarga mereka. Bagaimana dengan nasib kami?". Diakui atau tidak, disadari atau tidak, saya yakin istri-pun pasti membatin hal yang sama. Ya Alloh, kami memang sudah berikhtiar kemana-pun, kalau-pun pada akhirnya Engkau memang menilai kami belum layak untuk di-anugerahi keturunan, buatlah hati dan pikiran kami selalu berbaik sangka kepada-Mu. Bahwa apapun yang Engkau kehendaki, itulah yang terbaik buat kami. Jadikan keadaan ini membuat kami selalu tetap bersyukur kepada-Mu dan tidak menjadikan kami kufur nikmat kepada-Mu.

Diantara anak-anaknya Aba, memang tinggal Istri lah yang sudah menikah paling lama tapi belum dikaruniai keturunan. Saya dan istri sungguh dihadapkan dalam kondisi yang secara mental ini tidak menguntungkan buat kami. Tapi apapun itu, kami belajar menyikapi hal ini dengan tetap bersabar dan terus berikhtiar. Beruntung kami terus bisa memahami perasaan masing-masing. Karna isu ini bisa menjadi sesuatu yang "sangat sensitif" untuk dibahas.

Selamat Iis, Dedi, apa yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Semoga kehadiran anggota barunya bisa membuat hidup kalian lebih bermakna, lebih berwarna, lebih manfaat dan jadi berkah untuk semua orang. Amiiin

Wednesday, September 10, 2014

Menuju 6 Tahun Pernikahan dan Cita-cita Yang Belum Terlaksana

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Tidak terasa, sudah 5 tahun 9 bulan kami sudah menjalani pernikahan. Di usia ini pula kami menikmati apapun yang Alloh skenariokan. Kami terus belajar bersyukur, berbaik sangka dengan Sang Maha Adil. Memang kerikil pernikahan di hampir 6 tahun ini boleh di bilang tidak sedikit. Kami berdua sudah terlalu sering mendengarkan pertanyaan atau pun pernyataan dari teman, tetangga, saudara, orang tua tentang buah hati yang sampai detik ini belum di anugrahkan kepada kami. Kami pun sadar sepenuhnya, berdiam diri dan pasrah bukan juga sikap yang tepat. Ikhtiar ke Dokter SpOG tetap kami lakukan, bahkan sampai tahap Operasi Laparoskopi istri pun dijalani. Tidak lain dan tidak bukan, demi menyempurnakan ikhtiar kami untuk mendapatkan keturunan. Laparoskopi sudah dijalani di akhir tahun 2013 lalu. Sementara waktu, kami memutuskan untuk stop konsultasi ke Dokter SpOG. Bukan apa-apa, lama-kelamaan saya sangat kasihan terhadap istri yang setiap kali konsultasi, kami selalu mendapatkan resep obat yang 'lumayan' secara jumlah atau pun harganya. Biarlah untuk saat ini, saya dan istri stop ke Dokter, dan menjalani hidup seperti biasa. Ada keinginan yang begitu kuat dalam diri ini untuk mengunjungi rumah Alloh di Mekkah sana. Serangkaian ikhtiar dan doa sudah kami jalani selama ini agar kami mendapatkan keturunan. Satu hal yang belum kami coba, berdoa di depan Ka'bah, tempat yang menurut banyak orang Mustajab untuk Doa yang dipanjatkan. Tapi kami masih banyak keterbatasan, masih harus melunasi hutang-hutang ke bank yang kami pakai untuk usaha tahun lalu. Saya pribadi ingin berhaji daripada umroh. Tapi mengingat antrian yang sangat panjang untuk berhaji, niat itu sekarang mengendur dan lebih kuat untuk Umroh terlebih dahulu. Semoga Alloh melancarkan niat kami untuk umroh ke Tanah Suci sesegera mungkin. Terkadang malu dengan rekan-rekan di kantor, mereka sudah berangkat duluan sementara saya masih asyik dengan pekerjaan. Malu juga sama orang tua atau pun mertua yang secara tidak langsung sudah menyentil kami beberapa kali. Dan yang lebih malu dengan diri sendiri tentunya. Beli mobil sanggup, beli rumah sanggup, beli apartemen sanggup, tapi untuk ke Rumah Alloh ada 1001 alasan yang muncul. Belum terpanggil lah, belum cukup uangnya lah, belum bisa nabung lah, masih banyak sangkutan hutang lah, Semoga Alloh mengabulkan dan memudahkan kami untuk tujuan Mulia itu. Amiiin.

Thursday, May 8, 2014

Terima Kasih Pa Adi.......

Pak Adi Pramono, bergabung dengan TMI tanggal 7 Agustus 2002. Beliau memang saya minta kepada Department Head saat itu untuk mensupervisi saya dalam pekerjaan karena saya akui, saya masih sangat belia dengan lingkungan pekerjaan terlebih dengan kondisi di TMI saat itu. Programmer yang ada hanya 3 orang, Pak Iwan, A Yuyud, Rika. Sementara di bagian jaringan, hanya ada saya sendiri. Untuk itulah, saya meminta tambahan 1 orang sekaligus menjadi atasan saya. 
Setelah bergabung, Pa Adi memang terkenal unik. Tertutup dan sangat jarang berkomunikasi dengan orang lain. Beliau tidak pernah membuka obrolan dengan orang lain kalau tidak ditanya terlebih dahulu. Tidak ada yang perlu diragukan dari sisi Technical, beliau sangat mumpuni dan experience di bidangnya. Apapun yang dikerjakan, tidak ada kata tidak selesai dan tidak solve. Saya pun berusaha mengikuti ritme beliau, tetapi saya menyadari sepenuhnya bahwa jam terbang memang membedakan kualitas orang. Dalam beberapa hal, saya selalu menanyakan jika ada hal yang saya tidak tau atau sekedar meminta konfirmasi nya apakah langkah yang sudah saya ambil sudah benar atau belum.
Sifat tertutup itulah yang membuat saya terkadang kebingungan jika ingin bertanya sesuatu yang teknis dan beliau selalu menjawab singkat seolah-olah kita dianggap sudah mengerti. Berangkat dari kondisi inilah, saya berusaha sebisa mungkin dalam mengerjakan apapun tidak meminta bantuan beliau, karena saya tau beliau fokus mengerjakan area server, saya tidak ingin mengganggu gugat dan menyentuhnya karena saya tau apa yang akan saya dapatkan seandainya saya masuk ke areanya beliau. Dan memang terbukti, apapun setting yang beliau kerjakan, saya sedikitpun tidak pernah di share. Kondisi ini semakin menambah kebingungan saya karena saya berada dalam satu section dan di bawah koordinasi beliau. Untuk itu, setiap tahun saat musim pengisian Target Achievement (TA), saya pusing setengah mati. Ingin meng-create sesuatu di server area, tapi semuanya dalam genggaman beliau. Akhirnya, saya mencoba meng-create sesuatu yang lain yang tidak related dengan server area. Mulailah perlahan-lahan saya handle network di kantor cabang. Setiap ada kantor cabang baru yang disetup, saya biasakan terjun langsung dari mulai server installation, setup network segmen, ip address, pc untuk client dan lain sebagainya. Sedikit memang, tapi membuahkan hasil buat saya. Daripada fokus di area server yang saya sendiri secara tidak langsung tidak diberikan sharingnya, lebih baik saya meng-create sesuatu yang lain yang bisa berguna juga untuk TMI.
Tahun demi tahun berjalan, komunikasi dengan beliau tetap sama, pasif dan miskin sharing. Saya pun tidak ambil pusing, pada akhirnya selalu mencoba untuk meng-create sesuatu diluar server area. Sebutlah penghematan pulsa dengan VoIP, ISDN TV Conference, menggantikan server Blackberry Enterprise dengan BES Express yang free license, mengupgrade jaringan internet dan MPLS menjadi dua kali lipat, dan beberapa yang lain.
Walhasil, ujian buat saya bertambah saat saya dipromosikan menjadi level yang sama dengan beliau. Komunikasi semakin bertambah sulit, tidak jarang apa yang saya tanyakan selalu akan kembali dengan jawaban "ga tau aku", "cari tau aja sendiri". Jawaban-jawaban ini semakin menambah beban mental buat saya. Saya tidak pernah membayangkan kalau posisi saya bisa menjadi sama seperti beliau, sama sekali tidak pernah terpikirkan. Saya bekerja Lillaahi Ta'ala. Apa yang saya kerjakan, saya kerjakan sebisa mungkin dan selalu niat saya adalah ibadah. Masalah hasil, saya selalu kembalikan kepada yang membuat diri saya ini, Alloh SWT. 

Tanggal 7 Mei 2014, beliau resign, tidak ada yang tau kemana beliau pindah atau berwirausaha

Terima kasih Pa Adi, sudah menjadi guru buat saya, apapun yang saya dapatkan dari Pa Adi, benar-benar ilmu yang bermanfaat untuk saya. 

Thursday, April 24, 2014

12 Tahun Bekerja dan Ditinggalkan Teman Terbaik

Subhanalloh,

Tidak terasa, saya sudah mengabdikan diri untuk kantor 12 tahun. Sepanjang 12 tahun ini saya mulai dengan posisi Junior Officer dan Grade J. Level yang benar-benar pemula dan paling rendah untuk orang yang baru mulai bekarja di TMI. Saya memang bukan orang yang menggebu-gebu mengejar karir. Saya hanya berkeyakinan, sepanjang kita bisa bekerja dengan totalitas dan loyalitas, bukan manusia sekitar yang menilai, tapi Alloh SWT. Karena yang saya terapkan adalah, bekerja pun bagian dari Ibadah, 
Minggu ini, saya akan di tinggal tiga orang teman terbaik. Dua orang di antaranya adalah generasi yang satu angkatan dengan saya saat bergabung dengan TMI. Dia adalah Febriyana Arum Winata. Sosok perempuan di bagian HRD yang sangat piawai dalam bergaul, mudah diterima oleh semua kalangan, ibu-ibu, anak baru, yang senior, yang junior, termasuk jajaran management pun mengakui keberadaannya. Kehadiran seorang Arum di TMI sudah memberikan warna dalam banyak hal. Ada yang mengenal nya dengan perantaraan masuk rumah sakit :) karena PIC yang berhubungan dengan pihak rumah sakit disaat ada orang kantor sakit, dia lah yang mengurus administrasi secara langsung. Nama nya sudah cukup tenar di kalangan rumah sakit di Jabodetabek ini. Nama nya sudah cukup tenar di kalangan rumah sakit di Jabodetabek :). Beberapa orang yang lain mungkin akan mengenalnya di saat ada perkenalan dengan karyawan baru di TMI karena dia lah yang memperkenalkan orang baru dari meja ke meja di dua lantai kantor TMI inil. Beberapa orang yang lain mungkin ada yang mengenalnya lebih dekat pada saat meminta bantuan pembuatan passport. Dia juga lah yang dikenal namanya di kalangan orang Imigrasi. Ada juga yang mengenalnya di saat Medical Check-up, lagi lagi karena Arum lah yang membuat jadwal sekaligus administrasinya si A si B mendapatkan giliran jadwal Medical Check Up. Atau di kesempatan lain, ada juga yang mengenalnya saat harus berurusan dengan Depnaker karena semua expat yang bekerja di TMI hampir 100% diurus perijinanan dan administrasi nya oleh dia. Dan tidak jarang juga seorang Arum bolak-balik ke Kedutaan untuk mengurus visa untuk karyawan di TMI. 
Bulan ini, seorang Arum sudah mengambil keputusan besar dalam hidup, resign dari kantor setelah 12 tahun bekerja. Rutinitas berangkat bekerja dari minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, semakin membuatnya harus berangkat lebih pagi. Tahun ini, mungkin puncaknya untuk seorang Arum yang dia harus bangun pagi tidak kalah dari orang muslim yang harus menunaikan sholat subuh. Malah, Arum sudah terbangun lebih awal dibandingkan suara Adzan di masjid. Rutinitas ini semakin lama semakin membuatnya bertanya-tanya "sampai kapan harus menjalani rutinitas seperti ini".
Dengan berfikir matang dan didukung oleh suami, sampai lah waktunya keputusan besar itu. Ya, hari ini, Kamis 24 April 2014 adalah hari terakhir Arum bekerja di TMI. Saya pribadi, tidak ingin mengucapkan salam perpisahan, karena memang secara pertemanan tidak ada perpisahan. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang bisa diminta tolong untuk kerokan kalau saya lagi masuk angin. Bermodalkan balsem kadang minyak angin, seringkali saya meminta bantuan Arum untuk "dikerokin" di gudang file TMI atau di ruang dokter. Hmmm, memori ini tidak akan ada lagi sepertinya. Sukses buat seorang Arum. Tidak ada keputusan yang salah dalam hidup sepanjang kita bisa menyikapinya dengan benar, tidak akan pernah ada penyeselan atau keragu-raguan. 

Teman selanjutnya adalah Agus Rochim, teman satu angkatan, dia di bagian Claim dan posisi pertama nya adalah Surveyor. Agus memang mencari jenjang karir yang sebenarnya, bukan cuma posisi tapi jobdesc nya tidak mencerminkan posisi sebenarnya. Alasan utamanya Agus resign tidak semata-mata mengejar "angka" yang lebih besar, tapi memang benar-benar ingin challenge yang lebih dari saat ini. Sukses untuk Agus di tempat baru nanti. 

Teman terakhir yang bulan ini resign adalah Yan Mulyana. Walaupun masih relatif baru bergabung dengan TMI (sekitar 2 tahun lebih), Yan sudah memperlihatkan kepiawaiannya dalam bekerja dan bergaul dengan semua kalangan. Penuh wawasan dan punya gaya bicara dan gaya bercanda yang 'unik'. Setelah melihat situasi yang tepat, akhirnya Yan pun mengajukan resign dan akan segera berkantor di Asuransi lain. 

Well, satu persatu teman-teman terbaik mulai meninggalkan TMI. Bisa kah saya menjadi orang selanjutnya seperti mereka? Wallohu Alam. 

Dari depan monitor di atas meja


Bahar. RS

Saya yang tidak akan melihat keseharian Arum di TMI lagi

About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"