Friday, December 30, 2011

Di Cap Anak Durhaka di Keluarga Sendiri

Kalau teringat kejadian ini, disadari atau tidak mata kami berdua perlahan-lahan menitikkan air mata. Bagaimana tidak, kami di cap sebagai anak durhaka yang sudah meninggalkan orangtua disaat sedang jalan-jalan ke tepi pantai Ancol.

Hari itu, Senin 26 Desember 2011. Tepatnya tiga hari yang lalu disaat saya menuliskan curahan dan perasaan melalui tulisan ini. Kami berdua memang berencana Silaturahmi ke keluarga baru kami (dari pihak istri) di Bekasi sana. Pagi itu, istri saya harus kepasar dulu membeli sarapan untuk tukang yang sedang kerja di rumah.  Di luar dugaan, bu Agus mengajak istri saya untuk sekalian saja ke pasar sambil membeli sarapan. Istri pun mengiyakan ajakan bu Agus, karena buat kami, bu Agus seperti keluarga kami sendiri. Ternyata sudah hampir satu jam istri saya menemani bu Agus ke pasar. Sementara kami sudah ditunggu oleh keluarga Kalibata. Saya sudah berjanji jam 8 kami sudah mau berangkat ke Kalibata.

Walhasil, baru jam 10-an lah kami bisa berangkat ke Kalibata. Buat saya, ini sudah menjadi kesalahan besar tidak menepati janji, dan saya sudah berniat harus mengatakan yang sejujurnya ke keluarga Kalibata apa yang sebenarnya terjadi. Karena buat saya, kejujuran adalah segalanya, walaupun itu pahit.

Tibalah kami di gang rumah menuju Kalibata, hari itu sedang ada galian PLN, sehingga jalan menjadi sangat sempit, buat mobil saja, hanya pas ban. Mobil yang saya bawa, ternyata sedikit terkena cor-coran tiang listrik dan mengakibatkan ada baret di bagian bawah pintu tengah. Kesialan kami ternyata belum selesai, saat sedang parkir mundur menuju tempat biasa kami parkir mobil, tukang aqua galon menyerempet bagian bumper depan sebelah kiri mobil kami. Dua kejadian ini sebenarnya sudah merupakan awal yang tidak baik buat kami, kami berdua mendapat ujian kecil dengan mobil. Setelah memarkirkan mobil di tempat biasa, tidak berapa lama semua keluarga Kalibata langsung menaiki dua mobil yang sudah dipersiapkan, salah satunya mobil kami.

Sepanjang perjalanan dari Kalibata menuju Bekasi, tidak ada masalah berarti kecuali mobil yang dikendarai oleh Abang kami, terkena tilang saat mau keluar jalur tol sunter. Singkat cerita, tibalah kami di rumah Dedi, keluarga baru kami di Bekasi.  Perjalanan yang kami lalui, cukup menyenangkan, melewati kawasan pergudangan peti kemas, tepi laut Marunda, dan sampai lah di Desa Segara Jaya tempat keluarga baru kami tinggal. Bercengkrama, bersenda-gurau, makan bersama, sholat berjamaah kami lalui bersama. Tibalah saatnya kita melanjutkan perjalanan pulang sembari mampir ke tepi pantai terlebih dahulu, karena kebetulan ada Cucu Aba yang belum pernah dibawa ke pantai. Keluarga Dedi menyarankan ke tepi laut Muara Tawar, tetapi sayangnya Dedi tidak hafal jalan kea rah sana. Akhirnya kesepekatan bersama, kami pergi ke Ancol. Ditengah perjalanan menuju Ancol, disinilah awal masalah di mulai. Kami mendapatkan kabar dari bu Agus, kalau Neng Hana (adik bu Agus) yang biasa mengambilkan obat kesuburan buat istri saya, sedang pulang kampung ke Garut. Artinya, kami berdua lah yang harus mengambil langsung hari itu juga, karena tidak ada yang bisa mewakili. Kenapa kami minta bantuan Neng Hana, karena hari-hari biasa kami ada di Bintaro, bukan di Depok.

Kebingungan pun semakin menjadi-jadi karena waktu sudah menunjukkan lewat dari jam 4. Sementara kami harus mengambil obat sore itu juga. Kami memang sedang menjalani urut kehamilan di daerah Cilodong. Tiga tahun lebih kami memang berusaha keras agar diberikan keturunan, hampir semua cara pernah kami lakukan mulai dari urut, ke Dokter, radiesthesi, cek lab, dan masih banyak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Pokoknya semua usaha itu kami jalani semata-mata supaya kami diberikan keturunan secepatnya. Nah, kebetulan Nenek yang biasa mengurut istri saya, berpesan dari awal kami datang, obat ini jangan sampai putus, tidak boleh terlewat sama sekali. Nenek ini tidak membuka praktek untuk umum. Saya dan istri hanya direkomendasikan oleh bu Agus karena mungkin sudah menganggap seperti keluarga sendiri terhadap kami, makanya bu Agus tidak sungkan untuk membawa kami ke si Nenek ini. Karena teringat dengan pesan si Nenek, itu sebabnya kami berdua menjadi bingung, karena disaat yang sama kami sedang bersantai bersama keluarga di Ancol. Saya bbm kakaknya istri, 'anak-anak renangnya masih lama ya?', ik, kalo bisa jangan lama-lama ya, karna gua harus ambil obat buat dana sore ini juga'. Melihat status bbm saya tidak kunjung di baca, saya akhirnya memakai jalan terakhir, mendatangi Aba langsung dan menceritakannya.

Saya harus menceritakan kebingungan ini sama Aba, karena saya tau, dalam mengambil keputusan, Aba sangat lah adil. Apa yang harus saya lakukan? Makanya, Saya cari Aba ke tepi pantai Ancol di tempat anak-anak kecil biasa berenang. Saya ceritakan bahwa saya harus ambil obat buat istri, karena kebetulan saudara Bu Agus (Neng Hana) yang biasa mengambilkan obat buat kita, sedang pulang kampung ke Garut. Itu sebabnya saya harus ambil obat itu hari ini juga. Saat itu, Aba Cuma diam, tidak memberikan saran apapun. Dalam hati, yang saya inginkan Jawaban, bukan diam. Saya pun kembali ke tempat dimana kami menggelar tikar ditepi pantai, karena tempat berenang anak-anak lumayan jauh dari tempat kami menggelar tikar. Sambil saya tetap berfikir apa yang sebaiknya harus saya lakukan, saya ngobrol sama Dedi, dan bilang 'mungkin yang semobil sama kita, pulangnya duluan aja Ded, karna gua harus ambil obat buat Dana hari ini juga.' Saat itu jawaban Dedi "Ya kita mah terserah aja sih bang. Ga apa-apa juga kalo kita pulang duluan'. Di saat saya baru saja ngobrol dengan Dedi, entah siapa yang punya ide "gpp har lu pulang duluan aja, kita-kita pulangnya naik taksi aja, abisnya anak-anak masih pada pengen lama disini". Kaget, karna saya berfikir itulah jawaban Aba dengan pertanyaan saya sewaktu saya dekati Aba untuk menceritakan kebingungan tadi. Karena dalam hati, jawaban yang saya rasa cukup adil adalah, dengan membiarkan yang semobil kita, pulang duluan, biarkan mobil kedua tetap di Ancol, toh anak-anak yang sedang renang ada di mobil kedua, bukan di mobil kami. Tapi ya sudahlah, karena saya anggap itu mewakili keputusan Aba untuk naik taksi, kami pun putuskan pulang dan berpamitan.

Kami menganggap tidak ada kejadian aneh sepanjang perjalanan pulang kami ke Depok. Besok harinya, saya mendapatkan forward bbm dari Abang "De, ati-ati lu, ntar Alloh marah, tega-teganya ninggalin orangtua lagi jalan-jalan". Tidak terima dengan isi pesan bbm ini, saya langsung bbm Abang dan ceritakan kronologisnya. Di akhir percakapan saya dengan Abang, saya menilai ada sesuatu yang missed. Untuk meyakinkan, saya bbm kakak satunya, tetapi bbm kakak ini membuat suasana saya menjadi kacau, dia menuduh saya telah menjadi anak durhaka, tega. Dan diperparah dia malah menyinggung masalah mobil yang baret. Setiap kali ke Kalibata, menurut kakak ini selalu ada aja yang jadi masalah dengan mobil, sampai sekeluarga bosan tiap kali ke Kalibata, pasti ada masalah sama mobil. Orang lain parkir di depan rumah Kalibata biasa saja, tidak ada satu pun yang complaint seperti saya. Omongan kakak inilah yang membuat saya menjadi sangat marah, tersengat dan pada akhirnya menjadi tau kakak satu ini ternyata seperti ini kelakuannya. Ditambah memperkeruh suasana dengan percuma meminta maaf ke Aba kalau sikap kami berdua tidak dirubah.

Hari itu, kami berdua tidak bisa makan, kerja tidak tenang, pikiran melayang kemana-mana. Yang kami takutkan adalah Aba, karena seandainya Aba benar-benar marah dengan kejadian ini, tensinya pasti langsung tinggi ditambah kondisi jantung Aba memang kurang begitu baik. Apa salah kami, apa dosa kami, mereka sampai menghujat, mempersalahkan langkah kami, padahal  saya sudah bilang ke Aba perihal saya harus pulang hari itu juga, karena harus ambil obat. Saya ingin menyelesaikan masalah dengan cepat, tidak mau menjadi pikiran berlarut-larut. Dan pantang buat saya menunda-nunda masalah ini menjadi berkepanjangan. Malam itu juga, kami putuskan untuk meminta maaf dan datang langsung ke rumah Kalibata. Sepanjang perjalanan kami dari Bintaro ke Kalibata, pikiran kami semrawut, seolah-olah kami ini manusia yang paling durhaka dengan orang tua. Sesampainya di sana, saya sempat menunggu sekitar 15 menit kedatangan Aba, karena kita semua tau, Aba berangkat ke Musholla menjelang Magrib, kembali ke rumah, setelah Isya sekitar jam 8. Begitu terdengar suara Aba, saya langsung menyambutnya dan Meminta Maaf, tapi terlihat jelas dari tatapan mata dan desahan nafasnya, sepertinya Aba menyimpan kemarahan dan kekesalannya yang teramat sangat terhadap kami semua. Kami pun dipanggil ke dalam rumah. Aba langsung duduk di kasur tipis dan memberikan perintah "Biarkan Aba bicara dan keluarin unek-unek dulu, elu-elu pada jangan pada ngomong dulu". Kami berdua menunduk sambil Aba mengeluarkan unek-unek dan kekesalannya terhadap kami berdua. Intinya, Aba marah besar terhadap kami berdua, terutama dengan Istri saya,  yang merupakan anak Aba sendiri. Kami di cap tidak tau diri, tidak tau akhlak, orang tua ditinggalin ditengah jalan. Saat itu, kami berdua hanya bisa pasrah dituduh apapun. Setelah selesai mengeluarkan isi hati Aba, disaat yang bersamaan datanglah anak-anaknya. Mereka semua rata-rata berpendapat sama menilai kami sudah menjadi anak durhaka. Setelah semuanya selesai mengeluarkan isi hati masing-masing, baru lah saya memberikan penjelasan. Bahwa saya memilih pulang lebih awal karena saya yakin dan percaya Aba sudah tau apa yang saya sampaikan waktu di tepi pantai. Bahwa saya memilih pulang lebih awal karena memang sudah ada pilihan mereka memutuskan untuk naik taksi dan itu sudah atas sepengetahuan Aba

Ternyata sumber masalah ini berawal dari Aba yang sudah salah tangkap pembicaraan saya dan Aba saat di pinggir pantai. Aba menangkap bahwa saya harus mengambil obat untuk saudaranya Bu Agus yang sedang pulang ke Garut. Sementara informasi yang benar  "saya harus ambil obat buat dana, biasanya kita minta tolong untuk mengambilkan obat sama Adiknya Bu Agus, tapi karena Adiknya Bu Agus ini pulang kampung, kami berdua lah yang harus ambil sendiri." Buat kami berdua, obat ini sangatlah penting, karena ini obat penyubur untuk istri saya karena kami sedang ikhtiar agar diberikan keturunan dengan diurut dan minum obat tradisional. Tetapi, Aba malah menyinggung tentang bu Agus "Elu kalo giliran bu Agus, bela bener. Orangtua sendiri, lu telantarin ditengah jalan". Saya tidak habis pikir, tidak ada satu pun keluarga yang bisa mengerti apa yang sebenarnya saya lakukan. Mereka benar-benar tidak menghargai jerih payah, usaha, ikhtiar kami ingin segera diberikan keturunan. Mungkin karena mereka tidak pernah merasakan bagaimana penantian kami selama tiga tahun agar diberikan anak. Mereka membabi buta mempermasalahkan kami anak durhaka sudah meninggalkan orang tua di tengah jalan. Alloh ya Robb, andaikan mereka tau perjuangan kami ingin memiliki anak, seharusnya mereka semua mengerti dengan apa yang kami lakukan.

Karena informasi yang salah dari Aba lah, kami semua menjadi sangat takut dengan keluarga Kalibata. Sangat takut karena semua anak-anak Aba sudah satu persepsi, bersuara sama, bahwa kami lah yang layak untuk dipersalahkan. Kami berdua ingin menjauh, sejauh mungkin agar langkah yang kami lakukan tidak menjadi  bencana besar buat kami. 

Hari-hari harus kami lalui dengan kegundahan, kesedihan, kekecewaan. Bahkan istri saya, bisa dengan cepat menitikkan air mata kalau ingat kejadian itu, padahal dia sedang melayani orang yang ingin mengambil uang di kasir dalam keseharian kerjanya.

Bismillah, kami tidak boleh meratapi kejadian ini terus-menerus, sekuat tenaga kami mengalihkan ke hal-hal lain yang bisa membuat kami lupa dengan kejadian itu. Tapi jujur, teramat sangat sulit buat saya pribadi, terlebih istri saya tercinta. Istri merasa sudah melakukan kesalahan paling besar sampai-sampai ada yang men-cap anak durhaka. Seumur hidup saya yang sekarang sudah berumur 32 tahun, inilah sejarah dalam hidup menjadi tertuduh, didakwa menjadi anak durhaka yang tidak berbakti terhadap orang tua. Alloh Maha Tau, orang sekelas Aba pun bisa salah, tetapi kalau kesalahan itu diceritakan semua ke anak-anaknya, ini yang membuat hati kami terluka. Sangat sangat terluka. Kami percaya, ada hikmah dibalik semua kejadian. Semoga Alloh mendengar jeritan hati kami yang sudah sangat terluka ini.

Thursday, December 8, 2011

Bismillah

Bertahun-tahun menjalani hidup, dari mulai masih single sampai sekarang sudah menikah, mungkin tidak pernah ada kejadian yang paling menyakitkan selain kasus adik yang namanya si Bambang. Awal muasal masalah sebenernya sangat sederhana, yang bersangkutan setelah lulus dari Politeknik, berbulan-bulan tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Dengan dalih semuanya sudah dicoba, tapi apa daya gayung  belum ada yang bersambut. Alhasil, hampir sepuluh bulan masih belum mendapatkan pekerjaan.

Buat saya yang pernah menjadi kakaknya, tidak menjadi masalah kalau memang yang bersangkutan masih belum mendapatkan pekerjaan. Saya sangat hafal dengan kepribadian orang ini. Dibalik sifat diamnya, dia punya ego yang cukup tinggi. Ego yang suatu saat dia tidak bisa lagi di atur se-enaknya oleh siapapun. Dan sepertinya benar perkiraan saya. Di awal-awal pengangguran, dia berusaha menghindar dari rumah dan hidup menyendiri di rumah kakak di Azalea. Berdalih ingin mandiri dan tidak terlihat seperti orang pengangguran, keseharian hidupnya, tinggal di rumah kakak di Lippo Cikarang yang semuanya sudah serba 'cukup'. Ada satu sisi bahwa apapun yang dia lakukan di rumah Azalea, tidak perlu orang lain termasuk keluarga tau. Dia ingin bergerak, berbuat dengan caranya sendiri. Berperilaku seperti itu hanya untuk satu minggu atau satu bulan mungkin buat saya tidak menjadi masalah. Tapi lama-kelamaan hal ini jadi 'keenakan buat dia'. Bebas waktu, bebas bergerak, tidak ada tekanan dari siapapun, tidak ada yang mengatur. Tiba waktunya untuk saya menyadarkan dia. Saya harus kritik habis-habisan dengan sikapnya, saya harus buat dia merasa sakit hati dengan semua omongan, perkataan, cacian saya. Tujuannya tidak ada lain, supaya adik satu ini merasa sakit hati dan perlahan-lahan memotivasi dia untuk maju. Kenapa saya berbuat hal yang kontra dari kebanyakan orang? Karena saya sebagai kakaknya tau persis bagaimana Bambang. Dia tipikal orang yang santai, cukup slow motion, tidak terlalu bergairah terhadap sesuatu yang dia anggap 'biasa'. Artinya, dengan cara 'normal' hanya dengan menegur sopan, mengingatkan dengan halus, dijamin, tidak akan mempan sedikitpun. Tidak lain dan tidak bukan, karena di sisi lain seorang Bambang, dia menyimpan ego yang cukup tinggi. Tapi, proses ini semuanya menjadi salah kaprah di mata dia. Yang dia tangkap dan ditelan mentah-mentah adalah singgungan, cacian, hinaan saya terhadap dia. Inilah yang melekat dalam hidup dia sampai detik ini.

Well, seorang Bambang ternyata lebih suka menilai sesuatu 'sepotong-sepotong', tidak secara utuh. Yang ditangkap hanyalah cacian, hinaan itu. Tidak berfikir sebaliknya yang seharusnya memotivasi dia untuk 'bergerak', bukan 'diam di tempat'. Tapi ya sudahlah, kehilangan satu adik buat saya tidak menjadi masalah. Dia sudah menentukan pilihannya untuk menjauh dan menghindar dari saya. Berdalih punya harga diri dan manusia yang sudah mandiri dan tidak bisa diatur lagi. Padahal dimata saya, justru sebaliknya,  tidak lebih menunjukan sikap dan rasa mindernya , tetapi ditunjukkan dengan cara menjauh dari saya.

Saya, dilahirkan dari keluarga yang sangat keras kehidupannya, berasal dari keluarga 'broken home', hanya ingin mendidik semua adik-adik saya bukan menjadi pribadi yang cengeng, meratapi nasib terus-terusan, harus 'bergerak'. Kalau pada akhirnya ada yang merasa tersakiti, buat saya tidak lebih pribadi itu pribadi yang 'kerdil'.  Kalau harus hitung-hitungan sakit hati, seharusnya saya jauh lebih sakit hati terhadap kakak saya yang mendidik dengan 'sangat keras' malah cenderung ke arah fisik. Tapi hari ini, saya berterima kasih dengan seorang "Bayu Azi", yang telah membentuk saya menjadi orang tegar, orang kuat, tidak cengeng dalam hidup. Diluar kepribadian sang kakak yang jauh lebih temperamental dari saya,  saya lebih memikirikan sisi positif seorang kakak yang sudah membentuk saya seperti sekarang ini.

Tapi hal ini ternyata tidak terjadi dan tidak terbentuk untuk Bambang, sampai detik ini, saya tidak pernah berhasil menemui dia. Dia lebih suka menghindar, susah ditemui. Sengaja saya harus menginap di rumah orang tua hanya ingin meng-clear-kan masalah ini. Tapi perlakuan yang sama yang saya temui. Dia tidak pernah terlihat batang hidungnya di depan saya. Apalagi lewat jalur komunikasi handphone, dia sudah sangat 'pintar' memfilter semua 'sms' dan 'panggilan' yang berasal dari saya.  Padahal, sewaktu saya ingin menyampaikan amanat dari orang Oil and Gas yang dulu sempat menjanjikan lapangan pekerjaan untuk dia, saya berusaha telepon dan sms dia berkali-kali. Tapi Bambang pribadi yang cerdas, dia filter semua komunikasi dari saya, walhasil, lenyaplah kesempatan untuk berkarir dibidang yang dia sempat cita-citakan itu.

Bulan Juli 2011, tepatnya tanggal 28. Seorang Bambang lebih suka menyampaikan 'sesuatu' melalui facebook. Hati ini seperti diiris-iris membaca statusnya. "Kebebasan seperti ini TIDAK BISA DIBELI DENGAN UANG", Diluar dugaan, dan saya tidak pernah membayangkan seorang Bambang akan mengeluarkan kata-kata seperti itu. Dari bahasa yang saya tangkap, sepertinya orang ini memang sudah sangat lama tidak ingin dan tidak mau di atur-atur dalam hidup. Cuma karena semasa kuliah dan sekolah menjadi tanggungan saya dan istri, makanya dia bersikap 'baik' dan ngga "nyeleneh". Begitu dia sudah mendapatkan pekerjaan, dengan gagah dan lantangnya dia bersuara "Kebebasan seperti ini tidak bisa dibeli dengan uang".

Saya dan istri hanya sedih melihat kelakuan seorang  adik seperti ini. Adik yang dulu jadi andalan saya dalam hal apapun, gesit, lincah, banyak berbuat ketimbang banyak omong. Adik yang dulu saya idolakan untuk jadi penerus di keluarga, adik yang sangat berpotensi untuk bisa lebih maju dari saya. Adik yang saya kasih bekal ilmu dasar IT untuk modal  hidupnya. Tapi sekarang, dia adalah pribadi yang aneh, aneh untuk saya dan aneh juga terhadap keluarga di rumah. Saya menjadi sangat antipati dengan sikap dan kelakuan dia sekarang. Pribadi yang tertutup, bergerak anomali, bertingkah sesuka hati. Rasanya cukup pantas jika saya bilang adik ini memang tidak tau etika, tidak tau sopan santun, tidak tau terima kasih. Padahal, sebelum ada kata-kata di facebook, saya masih menganggap dia dalam keadaan pencarian jati diri. Tapi sekarang, dia bukan siapa-siapa dimata saya dan istri.

Saya sempat menantang seorang Bambang, dengan tingkah polahnya di facebook dan memang dia mau berbuat dan bertingkah laku dengan caranya sendiri. Terlalu picik, jika permasalahan keluarga di umbar di facebook, terlalu rendah jika punya unek-unek lebih suka disampaikan ke jejaring sosial seperti facebook. Apa motif dan tujuannya? Entah karena tidak berani ngomong, entah karena menghindar, entah karena apa. Saya minta dikembalikan semua biaya sekolah dan kuliah termasuk biaya makan sehari-harinya selama dia menjadi tanggungan saya saat kuliah dan sekolah dulu. Tantangan ini buat saya menjadi wajib hukumnya dan wajib hukumnya untuk seorang Bambang mengembalikan secara penuh biaya-biaya itu. Tantangan ini berlaku sepanjang seorang Bambang masih hidup. 

About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"