Bertahun-tahun menjalani hidup, dari mulai masih single sampai sekarang sudah menikah, mungkin tidak pernah ada kejadian yang paling menyakitkan selain kasus adik yang namanya si Bambang. Awal muasal masalah sebenernya sangat sederhana, yang bersangkutan setelah lulus dari Politeknik, berbulan-bulan tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Dengan dalih semuanya sudah dicoba, tapi apa daya gayung belum ada yang bersambut. Alhasil, hampir sepuluh bulan masih belum mendapatkan pekerjaan.
Buat saya yang pernah menjadi kakaknya, tidak menjadi masalah kalau memang yang bersangkutan masih belum mendapatkan pekerjaan. Saya sangat hafal dengan kepribadian orang ini. Dibalik sifat diamnya, dia punya ego yang cukup tinggi. Ego yang suatu saat dia tidak bisa lagi di atur se-enaknya oleh siapapun. Dan sepertinya benar perkiraan saya. Di awal-awal pengangguran, dia berusaha menghindar dari rumah dan hidup menyendiri di rumah kakak di Azalea. Berdalih ingin mandiri dan tidak terlihat seperti orang pengangguran, keseharian hidupnya, tinggal di rumah kakak di Lippo Cikarang yang semuanya sudah serba 'cukup'. Ada satu sisi bahwa apapun yang dia lakukan di rumah Azalea, tidak perlu orang lain termasuk keluarga tau. Dia ingin bergerak, berbuat dengan caranya sendiri. Berperilaku seperti itu hanya untuk satu minggu atau satu bulan mungkin buat saya tidak menjadi masalah. Tapi lama-kelamaan hal ini jadi 'keenakan buat dia'. Bebas waktu, bebas bergerak, tidak ada tekanan dari siapapun, tidak ada yang mengatur. Tiba waktunya untuk saya menyadarkan dia. Saya harus kritik habis-habisan dengan sikapnya, saya harus buat dia merasa sakit hati dengan semua omongan, perkataan, cacian saya. Tujuannya tidak ada lain, supaya adik satu ini merasa sakit hati dan perlahan-lahan memotivasi dia untuk maju. Kenapa saya berbuat hal yang kontra dari kebanyakan orang? Karena saya sebagai kakaknya tau persis bagaimana Bambang. Dia tipikal orang yang santai, cukup slow motion, tidak terlalu bergairah terhadap sesuatu yang dia anggap 'biasa'. Artinya, dengan cara 'normal' hanya dengan menegur sopan, mengingatkan dengan halus, dijamin, tidak akan mempan sedikitpun. Tidak lain dan tidak bukan, karena di sisi lain seorang Bambang, dia menyimpan ego yang cukup tinggi. Tapi, proses ini semuanya menjadi salah kaprah di mata dia. Yang dia tangkap dan ditelan mentah-mentah adalah singgungan, cacian, hinaan saya terhadap dia. Inilah yang melekat dalam hidup dia sampai detik ini.
Well, seorang Bambang ternyata lebih suka menilai sesuatu 'sepotong-sepotong', tidak secara utuh. Yang ditangkap hanyalah cacian, hinaan itu. Tidak berfikir sebaliknya yang seharusnya memotivasi dia untuk 'bergerak', bukan 'diam di tempat'. Tapi ya sudahlah, kehilangan satu adik buat saya tidak menjadi masalah. Dia sudah menentukan pilihannya untuk menjauh dan menghindar dari saya. Berdalih punya harga diri dan manusia yang sudah mandiri dan tidak bisa diatur lagi. Padahal dimata saya, justru sebaliknya, tidak lebih menunjukan sikap dan rasa mindernya , tetapi ditunjukkan dengan cara menjauh dari saya.
Saya, dilahirkan dari keluarga yang sangat keras kehidupannya, berasal dari keluarga 'broken home', hanya ingin mendidik semua adik-adik saya bukan menjadi pribadi yang cengeng, meratapi nasib terus-terusan, harus 'bergerak'. Kalau pada akhirnya ada yang merasa tersakiti, buat saya tidak lebih pribadi itu pribadi yang 'kerdil'. Kalau harus hitung-hitungan sakit hati, seharusnya saya jauh lebih sakit hati terhadap kakak saya yang mendidik dengan 'sangat keras' malah cenderung ke arah fisik. Tapi hari ini, saya berterima kasih dengan seorang "Bayu Azi", yang telah membentuk saya menjadi orang tegar, orang kuat, tidak cengeng dalam hidup. Diluar kepribadian sang kakak yang jauh lebih temperamental dari saya, saya lebih memikirikan sisi positif seorang kakak yang sudah membentuk saya seperti sekarang ini.
Tapi hal ini ternyata tidak terjadi dan tidak terbentuk untuk Bambang, sampai detik ini, saya tidak pernah berhasil menemui dia. Dia lebih suka menghindar, susah ditemui. Sengaja saya harus menginap di rumah orang tua hanya ingin meng-clear-kan masalah ini. Tapi perlakuan yang sama yang saya temui. Dia tidak pernah terlihat batang hidungnya di depan saya. Apalagi lewat jalur komunikasi handphone, dia sudah sangat 'pintar' memfilter semua 'sms' dan 'panggilan' yang berasal dari saya. Padahal, sewaktu saya ingin menyampaikan amanat dari orang Oil and Gas yang dulu sempat menjanjikan lapangan pekerjaan untuk dia, saya berusaha telepon dan sms dia berkali-kali. Tapi Bambang pribadi yang cerdas, dia filter semua komunikasi dari saya, walhasil, lenyaplah kesempatan untuk berkarir dibidang yang dia sempat cita-citakan itu.
Bulan Juli 2011, tepatnya tanggal 28. Seorang Bambang lebih suka menyampaikan 'sesuatu' melalui facebook. Hati ini seperti diiris-iris membaca statusnya. "Kebebasan seperti ini TIDAK BISA DIBELI DENGAN UANG", Diluar dugaan, dan saya tidak pernah membayangkan seorang Bambang akan mengeluarkan kata-kata seperti itu. Dari bahasa yang saya tangkap, sepertinya orang ini memang sudah sangat lama tidak ingin dan tidak mau di atur-atur dalam hidup. Cuma karena semasa kuliah dan sekolah menjadi tanggungan saya dan istri, makanya dia bersikap 'baik' dan ngga "nyeleneh". Begitu dia sudah mendapatkan pekerjaan, dengan gagah dan lantangnya dia bersuara "Kebebasan seperti ini tidak bisa dibeli dengan uang".
Saya dan istri hanya sedih melihat kelakuan seorang adik seperti ini. Adik yang dulu jadi andalan saya dalam hal apapun, gesit, lincah, banyak berbuat ketimbang banyak omong. Adik yang dulu saya idolakan untuk jadi penerus di keluarga, adik yang sangat berpotensi untuk bisa lebih maju dari saya. Adik yang saya kasih bekal ilmu dasar IT untuk modal hidupnya. Tapi sekarang, dia adalah pribadi yang aneh, aneh untuk saya dan aneh juga terhadap keluarga di rumah. Saya menjadi sangat antipati dengan sikap dan kelakuan dia sekarang. Pribadi yang tertutup, bergerak anomali, bertingkah sesuka hati. Rasanya cukup pantas jika saya bilang adik ini memang tidak tau etika, tidak tau sopan santun, tidak tau terima kasih. Padahal, sebelum ada kata-kata di facebook, saya masih menganggap dia dalam keadaan pencarian jati diri. Tapi sekarang, dia bukan siapa-siapa dimata saya dan istri.
Saya sempat menantang seorang Bambang, dengan tingkah polahnya di facebook dan memang dia mau berbuat dan bertingkah laku dengan caranya sendiri. Terlalu picik, jika permasalahan keluarga di umbar di facebook, terlalu rendah jika punya unek-unek lebih suka disampaikan ke jejaring sosial seperti facebook. Apa motif dan tujuannya? Entah karena tidak berani ngomong, entah karena menghindar, entah karena apa. Saya minta dikembalikan semua biaya sekolah dan kuliah termasuk biaya makan sehari-harinya selama dia menjadi tanggungan saya saat kuliah dan sekolah dulu. Tantangan ini buat saya menjadi wajib hukumnya dan wajib hukumnya untuk seorang Bambang mengembalikan secara penuh biaya-biaya itu. Tantangan ini berlaku sepanjang seorang Bambang masih hidup.
No comments:
Post a Comment