Friday, September 12, 2014

Hadirnya Anggota Keluarga Baru

Rabu, 10 September 2014, malam sehabis isya, saya, istri, abang ipar pergi menjenguk Iis (kakak istri) di bidan langganan keluarga. Iis secara hitungan, memang waktunya melahirkan. Dia sudah di induksi dari jam 9 pagi. Sampai saya dan istri datang, masih di bukaan 9. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 1.30 tapi Iis masih dibukaan 9 dan ada sedikit masalah dengan posisi bayinya. Karna jam yang sudah semakin pagi, saya dan istri pamit pulang dilanjutkan dengan anggota keluarga lain yang menunggu. Sampailah pada keputusan Iis harus dibantu di-vacuum karna posisi bayi yang masih  belum ideal untuk keluar dari rahim. Jam 4 kami dikabari lewat bbm, kalau anaknya sudah lahir di RS Duren Tiga. Ternyata Iis di rujuk ke sana karna harus dibantu dengan vacuum sementara di bidan peralatannya tidak memadai. Kami berucap syukur karna sempat terlintas dipikiran jangan-jangan harus di caesar.

Lengkap sudah Iis dan Suami yang sudah menunggu kurang lebih 2 tahunan akhirnya dikaruniai anak juga. Ya, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang ganteng dan lucu. Di tengah-tengah suasana gembira ini, jujur, saya sempat membatin dalam hati "Ya Alloh, kakak-kakaknya sudah diberikan kepercayaan oleh Alloh untuk dianugerahi keturunan, tidak ada rasa khawatir lagi dalam diri dan keluarga mereka. Bagaimana dengan nasib kami?". Diakui atau tidak, disadari atau tidak, saya yakin istri-pun pasti membatin hal yang sama. Ya Alloh, kami memang sudah berikhtiar kemana-pun, kalau-pun pada akhirnya Engkau memang menilai kami belum layak untuk di-anugerahi keturunan, buatlah hati dan pikiran kami selalu berbaik sangka kepada-Mu. Bahwa apapun yang Engkau kehendaki, itulah yang terbaik buat kami. Jadikan keadaan ini membuat kami selalu tetap bersyukur kepada-Mu dan tidak menjadikan kami kufur nikmat kepada-Mu.

Diantara anak-anaknya Aba, memang tinggal Istri lah yang sudah menikah paling lama tapi belum dikaruniai keturunan. Saya dan istri sungguh dihadapkan dalam kondisi yang secara mental ini tidak menguntungkan buat kami. Tapi apapun itu, kami belajar menyikapi hal ini dengan tetap bersabar dan terus berikhtiar. Beruntung kami terus bisa memahami perasaan masing-masing. Karna isu ini bisa menjadi sesuatu yang "sangat sensitif" untuk dibahas.

Selamat Iis, Dedi, apa yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Semoga kehadiran anggota barunya bisa membuat hidup kalian lebih bermakna, lebih berwarna, lebih manfaat dan jadi berkah untuk semua orang. Amiiin

Wednesday, September 10, 2014

Menuju 6 Tahun Pernikahan dan Cita-cita Yang Belum Terlaksana

Sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Tidak terasa, sudah 5 tahun 9 bulan kami sudah menjalani pernikahan. Di usia ini pula kami menikmati apapun yang Alloh skenariokan. Kami terus belajar bersyukur, berbaik sangka dengan Sang Maha Adil. Memang kerikil pernikahan di hampir 6 tahun ini boleh di bilang tidak sedikit. Kami berdua sudah terlalu sering mendengarkan pertanyaan atau pun pernyataan dari teman, tetangga, saudara, orang tua tentang buah hati yang sampai detik ini belum di anugrahkan kepada kami. Kami pun sadar sepenuhnya, berdiam diri dan pasrah bukan juga sikap yang tepat. Ikhtiar ke Dokter SpOG tetap kami lakukan, bahkan sampai tahap Operasi Laparoskopi istri pun dijalani. Tidak lain dan tidak bukan, demi menyempurnakan ikhtiar kami untuk mendapatkan keturunan. Laparoskopi sudah dijalani di akhir tahun 2013 lalu. Sementara waktu, kami memutuskan untuk stop konsultasi ke Dokter SpOG. Bukan apa-apa, lama-kelamaan saya sangat kasihan terhadap istri yang setiap kali konsultasi, kami selalu mendapatkan resep obat yang 'lumayan' secara jumlah atau pun harganya. Biarlah untuk saat ini, saya dan istri stop ke Dokter, dan menjalani hidup seperti biasa. Ada keinginan yang begitu kuat dalam diri ini untuk mengunjungi rumah Alloh di Mekkah sana. Serangkaian ikhtiar dan doa sudah kami jalani selama ini agar kami mendapatkan keturunan. Satu hal yang belum kami coba, berdoa di depan Ka'bah, tempat yang menurut banyak orang Mustajab untuk Doa yang dipanjatkan. Tapi kami masih banyak keterbatasan, masih harus melunasi hutang-hutang ke bank yang kami pakai untuk usaha tahun lalu. Saya pribadi ingin berhaji daripada umroh. Tapi mengingat antrian yang sangat panjang untuk berhaji, niat itu sekarang mengendur dan lebih kuat untuk Umroh terlebih dahulu. Semoga Alloh melancarkan niat kami untuk umroh ke Tanah Suci sesegera mungkin. Terkadang malu dengan rekan-rekan di kantor, mereka sudah berangkat duluan sementara saya masih asyik dengan pekerjaan. Malu juga sama orang tua atau pun mertua yang secara tidak langsung sudah menyentil kami beberapa kali. Dan yang lebih malu dengan diri sendiri tentunya. Beli mobil sanggup, beli rumah sanggup, beli apartemen sanggup, tapi untuk ke Rumah Alloh ada 1001 alasan yang muncul. Belum terpanggil lah, belum cukup uangnya lah, belum bisa nabung lah, masih banyak sangkutan hutang lah, Semoga Alloh mengabulkan dan memudahkan kami untuk tujuan Mulia itu. Amiiin.

About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"