Tuesday, March 10, 2015

Menghadapi Ujian di Tahun 2015

Ya Alloh, semoga dengan selalu mengingat-Mu, memohon ampun kepada-Mu, bisa menggugurkan dosa-dosa kami dan kehilafan kami. Di bulan Maret ini, kami dihadapkan dengan ujian yang bertubi-tubi. Ujian pertama, kami membantu mengurus Muhamad Tiar Safaraz yang tidak lain adalah keponakan dari istri saya sendiri. Tiar ini menderita kelainan jantung bawaan sejak lahir. Terdiagnosa PA, VSD dan MAPCA. Tidak ada jalan lain yaitu Operasi. Sebelum operasi dilakukan, ada tahapan kateterisasi jantung yang harus dijalankan. Sayangnya, proses kateterisasi ini dihentikan ditengah jalan oleh tim dokter karena keponakan ini oksigennya semakin turun ke 30%. Akhirnya kateter dihentikan dan si kecil dimasukkan ke ruang ICU untuk di monitor lebih lanjut. Karena kondisinya yang semakin menurun, akhirnya tahapan operasi harus segera dilaksanakan. Di tahap inilah ujian kami muncul. BPJS mempersulit kami karena ada syarat yang tidak terpenuhi yaitu tidak adanya riwayat kontrol di Poli Umum Jantung Harapan Kita. Singkat cerita, biaya kateterisasi sampai ICU ini dibebankan menjadi pribadi, bukan jalur BPJS. Rumah sakit memberikan jalan dengan cara mengeluarkan si kecil dari ICU dan memasukkannya ke ruang UGD Harapan Kita. Proses ini pun tidak berjalan dengan lancar, karena dr. BPJS meminta syarat tambahan yaitu surat keluar ICU dan surat pernyataan yang menerangkan bahwa keinginan keluar dari ICU bukan atas rekomendasi dr. BPJS melainkan atas keinginan sendiri. Berbagai cara sudah kami jalani, yang menghadap ke BPJS sudah berganti-ganti orang. Akhirnya, perjuangan di hari ketiga mengurus BPJS gol. Syarat itu terpenuhi semuanya dan sekarang sudah menjadi pasien BPJS sepenuhnya. Sekarang, masalahnya hanya menyisakan pembayaran yang sudah dilakukan dengan menggesek kartu kredit CIMB Niaga, bagaimana cara membayarnya.

Pertanyaan bagaimana cara membayarnya ini, sebetulnya tidak perlu terjadi kalau saya dan istri tidak mendapatkan ujian ini. Ya, ujian ini adalah ujian kedua di bulan yang sama, diminggu yang sama saat kami sedang fokus membantu si kecil di operasi jantung. Tiba-tiba saya di kabari oleh istri sendiri, bahwa uang 60 juta yang di investasikan ke teman baiknya hilang, karena perusahaannya collapse atau bangkrut. Kaget, shock, terperanjat, was-was, stress, marah, kesal, itu yang saya alami saat diberi kabar seperti itu oleh istri. Tapi saya berusaha untuk menghibur dan menenangkan diri sendiri, bahwa saya sudah terbiasa menjalani ujian berat seperti ini. Kita bisa lewati ini semua dan pada akhirnya kita akan lulus menghadapi ujian seperti ini.

Hal ini juga yang saya beritahukan ke istri saya, bahwa apapun yang terjadi, yang sudah ya sudah. Tinggal berfikir bagaimana kita akan mengganti semua uang yang hilang itu. Karena uang itu bukan sepenuhnya milik kami, ada uang temannya istri di dalamnya. Saya dan istri harus tanggung jawab, dan harus mengembalikan uang itu utuh, tanpa berkurang sedikitpun. Satu persatu, kami mulai menjual asset yang kami punya. Dimulai dengan motor Honda Beat istri yang dijual dadakan dan laku seharga 7.4 juta. Kemudian kami kuras semua manfaat tunai asuransi Prudential yang kami punya, nilainya kurang lebih 27 juta dari dua account, yaitu saya dan istri saya. Dan yang terakhir adalah, kami akan menjual Emas yang merupakan mas kawin pernikahan kami 6 tahun yang lalu. Saat kami memandang perhiasan itu, sejenak saya tertunduk lesu dan sedih, karena harta kami yang punya nilai "sakral" harus kami relakan untuk dijual, demi melunasi hutang yang kami punya.

Alloh Ya Robb, kami sangat yakin dan percaya, bahwa semua ini terjadi pasti atas kehendak-Mu, kami tidak berani banyak meminta dan menuntut kepada-Mu, yang kami perlukan, semoga kami bisa menjalani ujian ini dengan penuh keikhlasan, dan berikan kemampuan kepada kami untuk bangkit dan berusaha menjalani ujian ini sehingga kami menjadi pribadi yang tidak serakah, pandai bersyukur, pandai berbagi, sekecil dan sebesar apapun yang kami dapat.

Jakarta, 10 Maret 2015

About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"