Friday, December 30, 2011

Di Cap Anak Durhaka di Keluarga Sendiri

Kalau teringat kejadian ini, disadari atau tidak mata kami berdua perlahan-lahan menitikkan air mata. Bagaimana tidak, kami di cap sebagai anak durhaka yang sudah meninggalkan orangtua disaat sedang jalan-jalan ke tepi pantai Ancol.

Hari itu, Senin 26 Desember 2011. Tepatnya tiga hari yang lalu disaat saya menuliskan curahan dan perasaan melalui tulisan ini. Kami berdua memang berencana Silaturahmi ke keluarga baru kami (dari pihak istri) di Bekasi sana. Pagi itu, istri saya harus kepasar dulu membeli sarapan untuk tukang yang sedang kerja di rumah.  Di luar dugaan, bu Agus mengajak istri saya untuk sekalian saja ke pasar sambil membeli sarapan. Istri pun mengiyakan ajakan bu Agus, karena buat kami, bu Agus seperti keluarga kami sendiri. Ternyata sudah hampir satu jam istri saya menemani bu Agus ke pasar. Sementara kami sudah ditunggu oleh keluarga Kalibata. Saya sudah berjanji jam 8 kami sudah mau berangkat ke Kalibata.

Walhasil, baru jam 10-an lah kami bisa berangkat ke Kalibata. Buat saya, ini sudah menjadi kesalahan besar tidak menepati janji, dan saya sudah berniat harus mengatakan yang sejujurnya ke keluarga Kalibata apa yang sebenarnya terjadi. Karena buat saya, kejujuran adalah segalanya, walaupun itu pahit.

Tibalah kami di gang rumah menuju Kalibata, hari itu sedang ada galian PLN, sehingga jalan menjadi sangat sempit, buat mobil saja, hanya pas ban. Mobil yang saya bawa, ternyata sedikit terkena cor-coran tiang listrik dan mengakibatkan ada baret di bagian bawah pintu tengah. Kesialan kami ternyata belum selesai, saat sedang parkir mundur menuju tempat biasa kami parkir mobil, tukang aqua galon menyerempet bagian bumper depan sebelah kiri mobil kami. Dua kejadian ini sebenarnya sudah merupakan awal yang tidak baik buat kami, kami berdua mendapat ujian kecil dengan mobil. Setelah memarkirkan mobil di tempat biasa, tidak berapa lama semua keluarga Kalibata langsung menaiki dua mobil yang sudah dipersiapkan, salah satunya mobil kami.

Sepanjang perjalanan dari Kalibata menuju Bekasi, tidak ada masalah berarti kecuali mobil yang dikendarai oleh Abang kami, terkena tilang saat mau keluar jalur tol sunter. Singkat cerita, tibalah kami di rumah Dedi, keluarga baru kami di Bekasi.  Perjalanan yang kami lalui, cukup menyenangkan, melewati kawasan pergudangan peti kemas, tepi laut Marunda, dan sampai lah di Desa Segara Jaya tempat keluarga baru kami tinggal. Bercengkrama, bersenda-gurau, makan bersama, sholat berjamaah kami lalui bersama. Tibalah saatnya kita melanjutkan perjalanan pulang sembari mampir ke tepi pantai terlebih dahulu, karena kebetulan ada Cucu Aba yang belum pernah dibawa ke pantai. Keluarga Dedi menyarankan ke tepi laut Muara Tawar, tetapi sayangnya Dedi tidak hafal jalan kea rah sana. Akhirnya kesepekatan bersama, kami pergi ke Ancol. Ditengah perjalanan menuju Ancol, disinilah awal masalah di mulai. Kami mendapatkan kabar dari bu Agus, kalau Neng Hana (adik bu Agus) yang biasa mengambilkan obat kesuburan buat istri saya, sedang pulang kampung ke Garut. Artinya, kami berdua lah yang harus mengambil langsung hari itu juga, karena tidak ada yang bisa mewakili. Kenapa kami minta bantuan Neng Hana, karena hari-hari biasa kami ada di Bintaro, bukan di Depok.

Kebingungan pun semakin menjadi-jadi karena waktu sudah menunjukkan lewat dari jam 4. Sementara kami harus mengambil obat sore itu juga. Kami memang sedang menjalani urut kehamilan di daerah Cilodong. Tiga tahun lebih kami memang berusaha keras agar diberikan keturunan, hampir semua cara pernah kami lakukan mulai dari urut, ke Dokter, radiesthesi, cek lab, dan masih banyak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Pokoknya semua usaha itu kami jalani semata-mata supaya kami diberikan keturunan secepatnya. Nah, kebetulan Nenek yang biasa mengurut istri saya, berpesan dari awal kami datang, obat ini jangan sampai putus, tidak boleh terlewat sama sekali. Nenek ini tidak membuka praktek untuk umum. Saya dan istri hanya direkomendasikan oleh bu Agus karena mungkin sudah menganggap seperti keluarga sendiri terhadap kami, makanya bu Agus tidak sungkan untuk membawa kami ke si Nenek ini. Karena teringat dengan pesan si Nenek, itu sebabnya kami berdua menjadi bingung, karena disaat yang sama kami sedang bersantai bersama keluarga di Ancol. Saya bbm kakaknya istri, 'anak-anak renangnya masih lama ya?', ik, kalo bisa jangan lama-lama ya, karna gua harus ambil obat buat dana sore ini juga'. Melihat status bbm saya tidak kunjung di baca, saya akhirnya memakai jalan terakhir, mendatangi Aba langsung dan menceritakannya.

Saya harus menceritakan kebingungan ini sama Aba, karena saya tau, dalam mengambil keputusan, Aba sangat lah adil. Apa yang harus saya lakukan? Makanya, Saya cari Aba ke tepi pantai Ancol di tempat anak-anak kecil biasa berenang. Saya ceritakan bahwa saya harus ambil obat buat istri, karena kebetulan saudara Bu Agus (Neng Hana) yang biasa mengambilkan obat buat kita, sedang pulang kampung ke Garut. Itu sebabnya saya harus ambil obat itu hari ini juga. Saat itu, Aba Cuma diam, tidak memberikan saran apapun. Dalam hati, yang saya inginkan Jawaban, bukan diam. Saya pun kembali ke tempat dimana kami menggelar tikar ditepi pantai, karena tempat berenang anak-anak lumayan jauh dari tempat kami menggelar tikar. Sambil saya tetap berfikir apa yang sebaiknya harus saya lakukan, saya ngobrol sama Dedi, dan bilang 'mungkin yang semobil sama kita, pulangnya duluan aja Ded, karna gua harus ambil obat buat Dana hari ini juga.' Saat itu jawaban Dedi "Ya kita mah terserah aja sih bang. Ga apa-apa juga kalo kita pulang duluan'. Di saat saya baru saja ngobrol dengan Dedi, entah siapa yang punya ide "gpp har lu pulang duluan aja, kita-kita pulangnya naik taksi aja, abisnya anak-anak masih pada pengen lama disini". Kaget, karna saya berfikir itulah jawaban Aba dengan pertanyaan saya sewaktu saya dekati Aba untuk menceritakan kebingungan tadi. Karena dalam hati, jawaban yang saya rasa cukup adil adalah, dengan membiarkan yang semobil kita, pulang duluan, biarkan mobil kedua tetap di Ancol, toh anak-anak yang sedang renang ada di mobil kedua, bukan di mobil kami. Tapi ya sudahlah, karena saya anggap itu mewakili keputusan Aba untuk naik taksi, kami pun putuskan pulang dan berpamitan.

Kami menganggap tidak ada kejadian aneh sepanjang perjalanan pulang kami ke Depok. Besok harinya, saya mendapatkan forward bbm dari Abang "De, ati-ati lu, ntar Alloh marah, tega-teganya ninggalin orangtua lagi jalan-jalan". Tidak terima dengan isi pesan bbm ini, saya langsung bbm Abang dan ceritakan kronologisnya. Di akhir percakapan saya dengan Abang, saya menilai ada sesuatu yang missed. Untuk meyakinkan, saya bbm kakak satunya, tetapi bbm kakak ini membuat suasana saya menjadi kacau, dia menuduh saya telah menjadi anak durhaka, tega. Dan diperparah dia malah menyinggung masalah mobil yang baret. Setiap kali ke Kalibata, menurut kakak ini selalu ada aja yang jadi masalah dengan mobil, sampai sekeluarga bosan tiap kali ke Kalibata, pasti ada masalah sama mobil. Orang lain parkir di depan rumah Kalibata biasa saja, tidak ada satu pun yang complaint seperti saya. Omongan kakak inilah yang membuat saya menjadi sangat marah, tersengat dan pada akhirnya menjadi tau kakak satu ini ternyata seperti ini kelakuannya. Ditambah memperkeruh suasana dengan percuma meminta maaf ke Aba kalau sikap kami berdua tidak dirubah.

Hari itu, kami berdua tidak bisa makan, kerja tidak tenang, pikiran melayang kemana-mana. Yang kami takutkan adalah Aba, karena seandainya Aba benar-benar marah dengan kejadian ini, tensinya pasti langsung tinggi ditambah kondisi jantung Aba memang kurang begitu baik. Apa salah kami, apa dosa kami, mereka sampai menghujat, mempersalahkan langkah kami, padahal  saya sudah bilang ke Aba perihal saya harus pulang hari itu juga, karena harus ambil obat. Saya ingin menyelesaikan masalah dengan cepat, tidak mau menjadi pikiran berlarut-larut. Dan pantang buat saya menunda-nunda masalah ini menjadi berkepanjangan. Malam itu juga, kami putuskan untuk meminta maaf dan datang langsung ke rumah Kalibata. Sepanjang perjalanan kami dari Bintaro ke Kalibata, pikiran kami semrawut, seolah-olah kami ini manusia yang paling durhaka dengan orang tua. Sesampainya di sana, saya sempat menunggu sekitar 15 menit kedatangan Aba, karena kita semua tau, Aba berangkat ke Musholla menjelang Magrib, kembali ke rumah, setelah Isya sekitar jam 8. Begitu terdengar suara Aba, saya langsung menyambutnya dan Meminta Maaf, tapi terlihat jelas dari tatapan mata dan desahan nafasnya, sepertinya Aba menyimpan kemarahan dan kekesalannya yang teramat sangat terhadap kami semua. Kami pun dipanggil ke dalam rumah. Aba langsung duduk di kasur tipis dan memberikan perintah "Biarkan Aba bicara dan keluarin unek-unek dulu, elu-elu pada jangan pada ngomong dulu". Kami berdua menunduk sambil Aba mengeluarkan unek-unek dan kekesalannya terhadap kami berdua. Intinya, Aba marah besar terhadap kami berdua, terutama dengan Istri saya,  yang merupakan anak Aba sendiri. Kami di cap tidak tau diri, tidak tau akhlak, orang tua ditinggalin ditengah jalan. Saat itu, kami berdua hanya bisa pasrah dituduh apapun. Setelah selesai mengeluarkan isi hati Aba, disaat yang bersamaan datanglah anak-anaknya. Mereka semua rata-rata berpendapat sama menilai kami sudah menjadi anak durhaka. Setelah semuanya selesai mengeluarkan isi hati masing-masing, baru lah saya memberikan penjelasan. Bahwa saya memilih pulang lebih awal karena saya yakin dan percaya Aba sudah tau apa yang saya sampaikan waktu di tepi pantai. Bahwa saya memilih pulang lebih awal karena memang sudah ada pilihan mereka memutuskan untuk naik taksi dan itu sudah atas sepengetahuan Aba

Ternyata sumber masalah ini berawal dari Aba yang sudah salah tangkap pembicaraan saya dan Aba saat di pinggir pantai. Aba menangkap bahwa saya harus mengambil obat untuk saudaranya Bu Agus yang sedang pulang ke Garut. Sementara informasi yang benar  "saya harus ambil obat buat dana, biasanya kita minta tolong untuk mengambilkan obat sama Adiknya Bu Agus, tapi karena Adiknya Bu Agus ini pulang kampung, kami berdua lah yang harus ambil sendiri." Buat kami berdua, obat ini sangatlah penting, karena ini obat penyubur untuk istri saya karena kami sedang ikhtiar agar diberikan keturunan dengan diurut dan minum obat tradisional. Tetapi, Aba malah menyinggung tentang bu Agus "Elu kalo giliran bu Agus, bela bener. Orangtua sendiri, lu telantarin ditengah jalan". Saya tidak habis pikir, tidak ada satu pun keluarga yang bisa mengerti apa yang sebenarnya saya lakukan. Mereka benar-benar tidak menghargai jerih payah, usaha, ikhtiar kami ingin segera diberikan keturunan. Mungkin karena mereka tidak pernah merasakan bagaimana penantian kami selama tiga tahun agar diberikan anak. Mereka membabi buta mempermasalahkan kami anak durhaka sudah meninggalkan orang tua di tengah jalan. Alloh ya Robb, andaikan mereka tau perjuangan kami ingin memiliki anak, seharusnya mereka semua mengerti dengan apa yang kami lakukan.

Karena informasi yang salah dari Aba lah, kami semua menjadi sangat takut dengan keluarga Kalibata. Sangat takut karena semua anak-anak Aba sudah satu persepsi, bersuara sama, bahwa kami lah yang layak untuk dipersalahkan. Kami berdua ingin menjauh, sejauh mungkin agar langkah yang kami lakukan tidak menjadi  bencana besar buat kami. 

Hari-hari harus kami lalui dengan kegundahan, kesedihan, kekecewaan. Bahkan istri saya, bisa dengan cepat menitikkan air mata kalau ingat kejadian itu, padahal dia sedang melayani orang yang ingin mengambil uang di kasir dalam keseharian kerjanya.

Bismillah, kami tidak boleh meratapi kejadian ini terus-menerus, sekuat tenaga kami mengalihkan ke hal-hal lain yang bisa membuat kami lupa dengan kejadian itu. Tapi jujur, teramat sangat sulit buat saya pribadi, terlebih istri saya tercinta. Istri merasa sudah melakukan kesalahan paling besar sampai-sampai ada yang men-cap anak durhaka. Seumur hidup saya yang sekarang sudah berumur 32 tahun, inilah sejarah dalam hidup menjadi tertuduh, didakwa menjadi anak durhaka yang tidak berbakti terhadap orang tua. Alloh Maha Tau, orang sekelas Aba pun bisa salah, tetapi kalau kesalahan itu diceritakan semua ke anak-anaknya, ini yang membuat hati kami terluka. Sangat sangat terluka. Kami percaya, ada hikmah dibalik semua kejadian. Semoga Alloh mendengar jeritan hati kami yang sudah sangat terluka ini.

Thursday, December 8, 2011

Bismillah

Bertahun-tahun menjalani hidup, dari mulai masih single sampai sekarang sudah menikah, mungkin tidak pernah ada kejadian yang paling menyakitkan selain kasus adik yang namanya si Bambang. Awal muasal masalah sebenernya sangat sederhana, yang bersangkutan setelah lulus dari Politeknik, berbulan-bulan tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Dengan dalih semuanya sudah dicoba, tapi apa daya gayung  belum ada yang bersambut. Alhasil, hampir sepuluh bulan masih belum mendapatkan pekerjaan.

Buat saya yang pernah menjadi kakaknya, tidak menjadi masalah kalau memang yang bersangkutan masih belum mendapatkan pekerjaan. Saya sangat hafal dengan kepribadian orang ini. Dibalik sifat diamnya, dia punya ego yang cukup tinggi. Ego yang suatu saat dia tidak bisa lagi di atur se-enaknya oleh siapapun. Dan sepertinya benar perkiraan saya. Di awal-awal pengangguran, dia berusaha menghindar dari rumah dan hidup menyendiri di rumah kakak di Azalea. Berdalih ingin mandiri dan tidak terlihat seperti orang pengangguran, keseharian hidupnya, tinggal di rumah kakak di Lippo Cikarang yang semuanya sudah serba 'cukup'. Ada satu sisi bahwa apapun yang dia lakukan di rumah Azalea, tidak perlu orang lain termasuk keluarga tau. Dia ingin bergerak, berbuat dengan caranya sendiri. Berperilaku seperti itu hanya untuk satu minggu atau satu bulan mungkin buat saya tidak menjadi masalah. Tapi lama-kelamaan hal ini jadi 'keenakan buat dia'. Bebas waktu, bebas bergerak, tidak ada tekanan dari siapapun, tidak ada yang mengatur. Tiba waktunya untuk saya menyadarkan dia. Saya harus kritik habis-habisan dengan sikapnya, saya harus buat dia merasa sakit hati dengan semua omongan, perkataan, cacian saya. Tujuannya tidak ada lain, supaya adik satu ini merasa sakit hati dan perlahan-lahan memotivasi dia untuk maju. Kenapa saya berbuat hal yang kontra dari kebanyakan orang? Karena saya sebagai kakaknya tau persis bagaimana Bambang. Dia tipikal orang yang santai, cukup slow motion, tidak terlalu bergairah terhadap sesuatu yang dia anggap 'biasa'. Artinya, dengan cara 'normal' hanya dengan menegur sopan, mengingatkan dengan halus, dijamin, tidak akan mempan sedikitpun. Tidak lain dan tidak bukan, karena di sisi lain seorang Bambang, dia menyimpan ego yang cukup tinggi. Tapi, proses ini semuanya menjadi salah kaprah di mata dia. Yang dia tangkap dan ditelan mentah-mentah adalah singgungan, cacian, hinaan saya terhadap dia. Inilah yang melekat dalam hidup dia sampai detik ini.

Well, seorang Bambang ternyata lebih suka menilai sesuatu 'sepotong-sepotong', tidak secara utuh. Yang ditangkap hanyalah cacian, hinaan itu. Tidak berfikir sebaliknya yang seharusnya memotivasi dia untuk 'bergerak', bukan 'diam di tempat'. Tapi ya sudahlah, kehilangan satu adik buat saya tidak menjadi masalah. Dia sudah menentukan pilihannya untuk menjauh dan menghindar dari saya. Berdalih punya harga diri dan manusia yang sudah mandiri dan tidak bisa diatur lagi. Padahal dimata saya, justru sebaliknya,  tidak lebih menunjukan sikap dan rasa mindernya , tetapi ditunjukkan dengan cara menjauh dari saya.

Saya, dilahirkan dari keluarga yang sangat keras kehidupannya, berasal dari keluarga 'broken home', hanya ingin mendidik semua adik-adik saya bukan menjadi pribadi yang cengeng, meratapi nasib terus-terusan, harus 'bergerak'. Kalau pada akhirnya ada yang merasa tersakiti, buat saya tidak lebih pribadi itu pribadi yang 'kerdil'.  Kalau harus hitung-hitungan sakit hati, seharusnya saya jauh lebih sakit hati terhadap kakak saya yang mendidik dengan 'sangat keras' malah cenderung ke arah fisik. Tapi hari ini, saya berterima kasih dengan seorang "Bayu Azi", yang telah membentuk saya menjadi orang tegar, orang kuat, tidak cengeng dalam hidup. Diluar kepribadian sang kakak yang jauh lebih temperamental dari saya,  saya lebih memikirikan sisi positif seorang kakak yang sudah membentuk saya seperti sekarang ini.

Tapi hal ini ternyata tidak terjadi dan tidak terbentuk untuk Bambang, sampai detik ini, saya tidak pernah berhasil menemui dia. Dia lebih suka menghindar, susah ditemui. Sengaja saya harus menginap di rumah orang tua hanya ingin meng-clear-kan masalah ini. Tapi perlakuan yang sama yang saya temui. Dia tidak pernah terlihat batang hidungnya di depan saya. Apalagi lewat jalur komunikasi handphone, dia sudah sangat 'pintar' memfilter semua 'sms' dan 'panggilan' yang berasal dari saya.  Padahal, sewaktu saya ingin menyampaikan amanat dari orang Oil and Gas yang dulu sempat menjanjikan lapangan pekerjaan untuk dia, saya berusaha telepon dan sms dia berkali-kali. Tapi Bambang pribadi yang cerdas, dia filter semua komunikasi dari saya, walhasil, lenyaplah kesempatan untuk berkarir dibidang yang dia sempat cita-citakan itu.

Bulan Juli 2011, tepatnya tanggal 28. Seorang Bambang lebih suka menyampaikan 'sesuatu' melalui facebook. Hati ini seperti diiris-iris membaca statusnya. "Kebebasan seperti ini TIDAK BISA DIBELI DENGAN UANG", Diluar dugaan, dan saya tidak pernah membayangkan seorang Bambang akan mengeluarkan kata-kata seperti itu. Dari bahasa yang saya tangkap, sepertinya orang ini memang sudah sangat lama tidak ingin dan tidak mau di atur-atur dalam hidup. Cuma karena semasa kuliah dan sekolah menjadi tanggungan saya dan istri, makanya dia bersikap 'baik' dan ngga "nyeleneh". Begitu dia sudah mendapatkan pekerjaan, dengan gagah dan lantangnya dia bersuara "Kebebasan seperti ini tidak bisa dibeli dengan uang".

Saya dan istri hanya sedih melihat kelakuan seorang  adik seperti ini. Adik yang dulu jadi andalan saya dalam hal apapun, gesit, lincah, banyak berbuat ketimbang banyak omong. Adik yang dulu saya idolakan untuk jadi penerus di keluarga, adik yang sangat berpotensi untuk bisa lebih maju dari saya. Adik yang saya kasih bekal ilmu dasar IT untuk modal  hidupnya. Tapi sekarang, dia adalah pribadi yang aneh, aneh untuk saya dan aneh juga terhadap keluarga di rumah. Saya menjadi sangat antipati dengan sikap dan kelakuan dia sekarang. Pribadi yang tertutup, bergerak anomali, bertingkah sesuka hati. Rasanya cukup pantas jika saya bilang adik ini memang tidak tau etika, tidak tau sopan santun, tidak tau terima kasih. Padahal, sebelum ada kata-kata di facebook, saya masih menganggap dia dalam keadaan pencarian jati diri. Tapi sekarang, dia bukan siapa-siapa dimata saya dan istri.

Saya sempat menantang seorang Bambang, dengan tingkah polahnya di facebook dan memang dia mau berbuat dan bertingkah laku dengan caranya sendiri. Terlalu picik, jika permasalahan keluarga di umbar di facebook, terlalu rendah jika punya unek-unek lebih suka disampaikan ke jejaring sosial seperti facebook. Apa motif dan tujuannya? Entah karena tidak berani ngomong, entah karena menghindar, entah karena apa. Saya minta dikembalikan semua biaya sekolah dan kuliah termasuk biaya makan sehari-harinya selama dia menjadi tanggungan saya saat kuliah dan sekolah dulu. Tantangan ini buat saya menjadi wajib hukumnya dan wajib hukumnya untuk seorang Bambang mengembalikan secara penuh biaya-biaya itu. Tantangan ini berlaku sepanjang seorang Bambang masih hidup. 

Monday, March 14, 2011

Japan Nuclear Power Plant

Timeline: Japan power plant crisis

There are fears about the safety of Japan's nuclear power stations. The authorities are working to prevent a second explosion at the Fukushima nuclear power station, where there was a huge blast on Saturday. An emergency has also been declared at the Onagawa nuclear plant, after high radiation levels were detected. BBC News looks at what has happened.

Explosion at Fukushima power station

Friday, 11 March: 1446 local time (0546 GMT)

The 8.9-magnitude earthquake strikes off the coast of Honshu island at a depth of about 24km. The tremor triggers the automatic shutdown of 11 of the nation's nuclear power reactors, including reactor units 1,2 and 3 at the Fukushima Daiichi power plant. Reactor units 4, 5 and 6 were undergoing routine inspections, so were not operating.

The quake causes the power station to be cut off from the national electricity grid. The plant's operators, Tokyo Electric Power Co (Tepco), find that the diesel-powered emergency generators for units 1 and 2 are not working and notify government officials.

1541: Tepco reports that the emergency generators for reactor units 1, 2 and 3 have failed - some reports suggest that the diesel-powered back-up systems are affected by the tsunami.

In the following hours, engineers attempt to install mobile power units to replace the diesel systems and manage to stabilise conditions at units 2 and 3, but not at unit 1.

1600: Japan's Nuclear and Industrial Safety Agency (Nisa) sets up an emergency headquarters to gather information on potential damage to the nation's 55 nuclear reactors.

1930: Chief Cabinet Secretary Yukio Edano announces that Prime Minister Naoto Kan has declared a "nuclear emergency status". Officials reassure people that this is standard procedure in events like this and no radioactive material has been detected in the area surrounding the power station.

Fukushima Daiichi power station

There are six reactors known as 'units' in the power station.

Unit 1

  • 439 MW Boiling Water Reactor (BWR); opened in 1971
  • Automatically shut down
  • Water level decreasing
  • Pressure release implemented
  • Seawater pumped in
  • Explosion observed with unknown effect

Unit 2

  • 760 MW BWR; opened in 1974
  • Automatically shut down
  • Water level lower but steady
  • Preparations for pressure release
  • Seawater reportedly pumped in

Unit 3

  • 760 MW BWR; opened in 1976
  • Automatically shut down
  • Cooling systems fail
  • Pressure release implemented
  • Seawater pumped in
  • Fears of an explosion

Unit 4

  • 760 MW BWR, opened in 1978
  • Shut for periodic inspection

Unit 5

  • 760 MW BWR; opened in 1978
  • Shut for periodic inspection

Unit 6

  • 1,067 MW BWR; opened in 1979
  • Shut for periodic inspection

2100: Residents within a 3km radius of the power station are told to leave their homes, while those within a 10km radius are told to stay at home in case it is necessary to extend the evacuation area.

Following the automatic shutdown of the reactors, and the failure of emergency generators, pressure in the unit builds up as a result of the pumps in the cooling system not working properly.

The pressure is the result of the reactor's residual "decay" heat causing the coolant, which is not being circulated, to evaporate.

The consequent increase in pressure in the coolant circuit can be controlled by pressure release valves, but this leads to an increase in pressure within the reactor building containment chamber.

Tepco says that the pressure inside reactor unit 1 is more than twice normal levels.

Saturday, 12 March: 0530 local time

In order to release some of the pressure inside the reactor unit, the decision is taken to vent some of the steam, which contains a small amount of radioactive material, into the air.

0819: An alarm alerts workers that the position of one control rod (used to halt the reactor) is unclear (whether it is fully inserted into the reactor or outside the reactor, allowing it to continue generating heat)

1009: Tepco confirms it has released a small amount of vapour into the atmosphere to reduce pressure in reactor unit 1.

1043: Control rod alarm stops, and all rods are confirmed as being fully inserted.

1058: In order to release some of pressure inside reactor unit 2, some steam was vented into the air. Again, this contains a small amount of radioactive material.

1530: TV cameras capture a massive explosion at the power station. The pictures appear to show that the outer structure of one of four buildings at the plant has collapsed. Tokyo Electric Power Co says four workers have been injured in the blast.

2000: Uncertainty surrounds what was the actual cause of the explosion, and what damaged was caused by the blast.

Chief Cabinet Secretary Yukio Edano confirms that the concrete building surrounding the steel reactor container has collapsed as a result of the blast, but the steel containment chamber itself had not been damaged.

2020: Tepco begins pumping seawater, mixed with the element boron, into unit 1's reactor. Boron is used as a shield in nuclear reactors, as it controls the nuclear reaction.

Nisa confirms that monitoring systems in the area have detected presence of radioactive elements caesium-137 and iodine-131 in the vicinity of unit 1. It reports an initial increase in levels of radioactivity around the plant, but says these levels have been observed to lessen.

2300: In its latest update, the plant's operator says: "We are preparing to implement a measure to reduce the pressure of [unit 3's] reactor containment vessels under the instruction of the national government."

Sunday, 13 March: 0122 local time

An official at Japan's nuclear agency rates the incident at 4 on the 0-7 international scale of severity. The 1986 Chernobyl disaster was rated 7, while the 1979 Three Mile Island accident was rated 5.

0320: The World Health Organisation says the risk to the public from the radiation leak at Fukushima is "probably quite low".

0523: The International Atomic Energy Agency says the plant's operator has confirmed that the containment vessel around unit 1 is intact and levels of radioactivity nearby have fallen in recent hours.

0623: An official from Nisa says the emergency cooling system at the plant's unit 3 reactor has failed.

0752: Tepco say it is preparing to release steam - containing a small amount of radioactive material - from unit 3 in an effort to lower the temperature inside. It is also looking for an alternative way to inject water into the reactor because without a continuous flow of water, there is a danger that the fuel rods will become exposed to the air and could melt.

0826: Yukio Edano tells state TV the unit 3 reactor was in danger, but attempts are under way to vent steam. Subsequently, it is reported that radiation has again risen above legal safety limits around the plant.

1326: Mr Edano says venting of unit 3 was completed at 0841 local time, but a partial meltdown in the reactor is still "highly possible".

1538: The Japanese government warns of the risk of another reactor explosion following the failure in unit 3. But a spokesman attempts to reassure people by saying the unit is designed to protect the reactor core in the same way as unit 1, and - so far - the radioactivity released into the environment does not pose a threat to human health.

2005: In his latest public briefing on the situation, Mr Edano says authorities have begun injecting seawater into the unit 3 reactor to try to lower the temperature - as they did on Saturday with unit 1.

He says the water level inside is thought to be rising to more satisfactory levels, but the gauge, which seems to be broken, is not showing this.

2209: It is reported that Tepco is planning to pump seawater into reactor number 2 at the plant - this is the first time problems have been reported with this third unit.

It is worth noting that using seawater like this is terminal for a nuclear reactor. It is a last-ditch move and renders the reactor permanently unusable.

2241: UN nuclear watchdog, the IAEA, says a state of emergency has been declared at a second Japanese nuclear power plant, Onagawa. The IAEA says high radiation levels had been found around the plant. A fire broke out in the turbine building of one the reactors at Onagawa on Friday, but was put out.

2350: Japan's nuclear safety agency says there is no problem with the cooling systems at the Onagawa plant. It blames the high radiation levels on radioactive releases from the Fukushima Daiichi complex.

Monday, 14 March: 0053 local time

Malcolm Crick, secretary of the UN Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation, tells Reuters: "This is not a serious public health issue at the moment. It won't be anything like Chernobyl. There the reactor was operating at full power when it exploded and it had no containment."

0207: A cooling pump at the Tokai nuclear power plant, 120 km (75 miles) from Tokyo, has failed, a plant spokesman says. But he says an additional pump is working and is cooling the reactor. Japan Atomic Power Company says the temperatures of the reactor have continued to fall.

0707 For full coverage of the crisis at Japan's nuclear power plants, as well as other developments in the wake of Friday's earthquake and tsunami, please go to our live page.

Boiling water nuclear reactor


--
http://bahartea.blogspot.com

Tuesday, February 22, 2011

Kalau Mau ke Bali

Hotel:
1. Sebaiknya pesen melalui travel (Panorama, Smailing, Vaya, Dwidaya, etc.) karena jauh lebih murah.
2. Atau coba disini untuk liat2 dulu: http://www.hotelmurahbali.com/
3. Kalau mau murah di daerah Sanur, tapi jauh kemana-mana.
4. Kalo mau yg ada pantainya, paling bagus daerah Nusa Dua, atau Benoa.
5. Kalo mau di tengah kota, coba di daerah jl. Kartika Plaza. Banyak banget hotel disitu.
6. Atau yg udah pasti nyaman dan aman, chain hotelnya Harris, Mercure, Santika, Tune hotels, etc. Hrg sekitar 400rban

Sekali lagi, jangan lupa semuanya beli di travel. Lebih Murah.

Charter mobil:
1. Avanza : 200rb/hari sampe puas.
2. Karimun : 150rb/hari sampe pegel.
3. Kijang (kayak bahar) : 150rb/hari sampe mogok... he..he..
ada juga yg cuma nyewain per 10jam.
Kalo ngasih harga lebih tinggi dari ini, tawar aja. 

Tips: gak usah belaga bicara bali. Orang bali justru gak suka. Kecuali emang fasih, baru deh kita dikasih harga murah.

Lunch:
1. Nasi Pedas (Jl. raya kuta, sebelah hotel ratna)
2. Ayam Plengkung (Jl. Raya Kuta)
3. Klapa (Dreamland)
4. Warung Bakudapa - Sopbuntut best in town (Seminyak)
5. Bebek Bengil (Ubud)
6. Bebek Tepian sawah (Jl Raya Goa Gajah, Ubud)
7. Nasi Ulam (Nusa Dua arah yg ke Benoa)
8. Nasi Jinggo - Bu Jumar (Deket Discovery)
9. Ayam Taliwang Bersaudara (Jl. Imam Bonjol)

Watching Sunset (dateng jam 16.00):
1. Rock Bar (Hotel Ayana, Jimbaran)
2. Potato Head (Seminyak)
3. Kudeta (Seminyak)
4. Karma Kandara (Daerah Jimbaran sebelum Dream Land)

Dinner:
1. Potato Head (Seminyak)
2. Massimo (Seminyak)
3. Warung Eropa (Seminyak)
4. Queen Tandoor - Indian & Chinese Food (Seminyak)
5. Warung Italia (Seminyak)
6. Iga Bakar Nuri (Ubud, atau di Kerobokan Kuta)
7. Steak Rumors (sblh Tratoria, Seminyak)
8. Gurita Seafood (Jl. Raya Kuta)
9. Jimbaran Seafood - Menega Cafe (Jimbaran)
10. Seminyak Square (Seminyak)

Buat berjemur & watersport di pantai:
1. Nusa Dua
2. Benoa
3. Padang-padang
4. Petitenget
5. Dreamland (bulan April keatas)

Spa:
1. Jari menari (Nusa Dua)
2. Cozy (Sunset Road)
3. Hotel Oasis (Nusa Dua), tukang pijetnya belajar di Dubai.
4. Hotel Ayana (2010 World's #1 spa), tapi siapin duit 5jtan.
5. Atau sepanjang jalan di Legian, murah meriah 70rban.

Shopping/oleh2:
1. Krishna (Kuta atau Denpasar)
2. Erlangga (Denpasar)
3. Pasar Ubud
4. Balicious roll - made to order (Jimbaran deket GWK)
5. Pia Legong (Jl. Bypass Kuta)
6. Daerah Seminyak, sepanjang jalan.

Source: Oji


Friday, January 28, 2011

Ketika Hidup Menjadi Lebih Hidup

Ketika Hidup Menjadi Lebih Hidup

Bismillah, mungkin judul di atas yang paling tepat untuk mengungkapkan apa yang terjadi di diri ini. Di saat segala sesuatu yang kujalani penuh dengan keterbatasan atau lebih tepatnya mendekati keputus-asaan, Alloh ternyata punya skenario untuk merubah keadaan ini menjadi jauh lebih baik untuk aku dan istriku. 
Anugrah ini Alloh berikan melalui jalan rejeki istriku. Dulu, butuh pertimbangan yang teramat sangat panjang untuk menentukan apakah istriku harus ikut ke kantor baru nya di Bintaro atau memutuskan berhenti dan mencoba menjadi PNS. Semua syarat untuk mengurus PNS sudah terpenuhi, sampai test pertama pun hampir dijalani. Tetapi, itulah Alloh yang paling tau cara membolak-balikkan hati siapapun. Test PNS hari itu ternyata berbarengan dengan jadwal pindahan kantor lama ke kantor baru istri di Sektor 9. Walhasil, test PNS hari pertama itu ditinggalkan dan memilih ikut pindahan ke kantor baru di Bintaro.
Singkat cerita, surat pengunduran diri istri sudah dibuat dan sudah diserahkan ke atasannya. Lagi-lagi Alloh secara tidak langsung menunjukan jalan untuk istriku. Atasannya ternyata menawarkan kembali untuk tetap bekerja sebagaimana mestinya. Dicoba 1-2 bulan dulu, kalau memang dirasa tidak cocok, silahkan kalau memang mau keluar, tidak apa-apa. Kurang lebih itulah jawaban atasannya. 
Saat istriku menyanggupi tawaran ini, pikiranku sederhana, harus segera mencari kontrakan di Bintaro untuk tempat tinggal kami berdua selama istri kerja di Bintaro nanti. Dan benar saja, ternyata istri betah untuk melanjutkan kerja di sana. 
Minggu lalu, istriku baru saja mendapatkan award sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap kinerja para karyawan. Atas dasar kejujurannya memegang amanah sebagai cashier, ternyata membuahkan hasil dengan terpilihnya istri menjadi salah satu karyawan yang mendapatkan penghargaan. 
Alloh ternyata belum selesai memberikan kejutan untuk istriku, di saat yang sama, penilaian kerja selama satu tahun ternyata membuahkan hasil pula terhadap pendapatannya. Di saat aku sebagai seorang suami yang tidak kunjung mengalami perubahan berarti dalam pekerjaan, di sisi lain Alloh memberikan rejeki dalam bentuk lain, yaitu dengan istriku. Di saat kami berdua menanti pengharapan dengan segera diberikannya keturunan (anak), Alloh mungkin membelokkan pengharapan kami ke bentuk lain yang tidak pernah bisa diduga sebelumnya.
Inilah yang mungkin aku sebut dengan kekuasaan Alloh. Di mata-Nya, tidak ada yang tidak mungkin untuk memberi jalan rejeki. Tidak dengan tanganku, tetapi dengan perantaraan istriku. Subhanalloh.
Semoga kami berdua selalu tetap menjadi Ahli Syukur atas Nikmat-Mu Ya Alloh. 


Bahar & Dana.


About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"