Friday, June 5, 2009

Ujian Pertama Pasca Nikah

Hari-hari yang kulalui setelah nikah begitu indah, benar-benar indah. Sampai tiba waktunya kami dikejutkan oleh kejadian percobaan perampokan di rumah kami, Depok.

Subuh itu, kami berdua memang menyengajakan sahur untuk puasa senin kamis. Setelah sahur, akupun bersiap mandi untuk sholat subuh dan persiapan kerja. Di rokaat pertama tidak ada gangguan sedikitpun, kami berdua khusyu. Di rokaat kedua, firasat hati ini entah kenapa tiba-tiba mendadak ngga enak. Aku mendengar ada suara motor menghampiri rumah. Pikirku, mungkin ini motor tetangga. Sejurus kemudian, aku dikejutkan lagi dengan suara pintu gerbang yang dibuka dengan sangat terburu-buru. Perasaan hati ini semakin ngga enak. Langsung saja aku percepat bacaan sholat subuh. Ruku, Tuma’ninah, Sujud, Salam. Setelah selesai salam aku langsung menghampiri jendela depan dan melihat apa yang terjadi. Begitu terkejutnya aku, ketika aku berusaha mengintip situasi di luar, ternyata ada orang berjaket hitam, memakai topi sudah berada di atas motor honda bebek sedang membuka paksa kunci kontak motor. Seketika itu juga aku membentak orang itu sambil refleks tanganku membuka slot pintu rumah. Ternyata orang yang aku bentak, malah balik membentak dan beberapa detik kemudian, aku diperingatkan dengan suara pistol yang membuat aku sangat terkejut. Di saat inilah aku baru teriak “Maling”. Apa yang kudapat? Ternyata aku malah di tembak untuk kedua kali dengan mengarahkan pistol itu ke tempat dimana aku berdiri. Alhamdulillah, Allah masih bersamaku. Peluru yang mungkin seharusnya menembus badanku, akhirnya menembus kusen pintu sebelah kiri.

Ngga berapa lamu tetangga rumah mulai banyak berkerumun menghampiri rumahku untuk menanyakan apa yang sesungguhnya terjadi. Hmm, buat aku ini sudah menjadi teror untuk masyarakat di perumahanku. 4 orang perampok dengan kenekatannya memasuki areal perumahan yang pintu aksesnya Cuma satu. Aku beharap ini kali terakhir ada insiden percobaan perampokan dengan senjata api di perumahanku. Rumah yang aku tempati yang sudah selayaknya jadi tempat istirahat, mencari ketenangan batin, sekarang malah berubah penuh dengan kecemasan dan ketakutan. Terlebih istriku yang sampai hari ini masih menjadi ibu rumah tangga. Aku takut sesuatu terjadi dan mengancam keselamatan istriku. Semoga Allah selalu menjaga istriku agar terhindar dari teror dan apapun yang mengancam keselamatan istriku.

Sehari kemudian, aku sibuk berbenah karena masih shock dan trauma dengan kejadian ini. Seketika itu juga aku memesan teralis jendela untuk dapur. Kebetulan rumah baru direnovasi untuk membuat dapur. Aku pun beli kunci disk brake dua buah untuk dua motorku. Dan aku juga beli kunci gembok yang baru untuk pintu gerbang rumahku. Cukup terkejut diri ini setelah mentotal jumlah uang yang harus aku keluarkan untuk membeli alat-alat itu. Jumlahnya kurang lebih 700.000. Nilai ini jumlahnya sama persis dengan jumlah yang seharusnya aku keluarkan 2.5% dari yang aku dapat bulan lalu. Padahal, seminggu setelah kami mendapatkan rejeki bulan lalu, istri sudah mengingatkan untuk mengeluarkan zakat ini, tapi saat itu aku belum mengeluarkannya karena proses pembangunan dapur belum selesai. Alhasil, sampai pembangunan dapur selesai, zakat ini tak kunjung dikeluarkan juga karena keburu habis teralokasikan ke pembangunan dapur. Aku dan istriku langsung duduk terdiam, mungkin Allah mengeluarkan secara paksa 2.5% yang seharusnya dikeluarkan bulan lalu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan 2.5% malam itu juga untuk disumbangkan ke masjid Al-Falah di dekat rumah. Niatku bulan lalu memang ingin menyumbangkan 2.5% untuk pembangunan masjid Al-Falah yang tak kunjung selesai.  Aku memberikan pengertian ke istri “apapun yang terjadi untuk sebulan kedepan, Bismillah. Niat kita baik, zakat ini harus tetap dikeluarkan. Kalaupun keuangan kita kurang di tengah jalan, biar Allah yang membantu kita. Tapi kita harus yakin bahwa Allah pasti memberikan jalan.

Subhanallah, Allah memang Maha Pemberi Rejeki. 11 hari sudah berlalu, Alhamdulillah, sampai detik ini aku menuliskan coretan ini, kami berdua masih dicukupkan rejekinya oleh Allah yang Maha Mengetahui kesulitan hamba-Nya. Disaat yang sama, istriku sudah beberapa kali mendapatkan panggilan dari salah satu perusahaan Jasa terkemuka di daerah TB. Simatupang. Akupun beberapa kali mendapatkan rejeki tambahan dari pekerjaan sampingan. Syukur, ini yang selalu aku ingatkan terhadap istriku. Berapapun, apapun, yang kita dapat selama ini, itu adalah rejeki dari Allah.

Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengingatkan kami berdua untuk mengeluarkan kewajiban yang seharusnya kami keluarkan.



--
http://bahartea.blogspot.com

Friday, May 8, 2009

Robb, Bukakan Pintu Hatinya….


Hampir setiap minggu aku memang selalu menyempatkan diri untuk menelepon keluargaku di Cikarang, pertanyaan yang terlontar pun hampir sama hanya seputaran kabar, sekolah, ada perkembangan apa beberapa hari terakhir. Itu memang sudah menjadi rutinitasku untuk mengontrol keluarga di Cikarang terlebih disaat aku telah menikah. Dalam bertelepon, aku memang selalu bergantian lawan bicara, terkadang dengan Emi (ibu), Arul, Yayah, kadang Abah (bapak).

Saat aku menanyakan tentang sekolah ke Yayah, diujung pembicaraan adikku yang satu ini ingin menyampaikan sesuatu tetapi seperti orang gugup atau kebingungan, dengan suara berat dia bilang bahwa sudah satu bulan terakhir ini dia tidak di support lagi uang sekolah oleh adikku Rita (adikku yang usianya terpaut satu tahun denganku, sudah menikah beberapa tahun lalu). Malahan, di beberapa bulan terakhir, uang yang seharusnya dibayarkan penuh sekitar 250 ribu pun, terkadang di berikan bertahap dan tidak mencapai 250 ribu. Parahnya lagi, adikku Rita ini menceritakan kondisi keuangannya ke ibu dan meminta pengertiannya dan kalau Yayah ini bisa dibantu keuangannya dari uang hasil warung atau WC umum, kontan saja aku marah. Bukan masalah adikku yang sudah tidak disupport lagi keuangannya yang membuatku jadi marah, tapi karena dia bercerita ke ibu dan kalau bisa Yayah ini dibantu keuangan sekolahnya dari hasil warung itu. Lebih parahnya lagi, adikku ini meminta status Yayah ini tidak diceritakan kepadaku.

Aku sangat sangat ngerti dengan kondisi keuangan adikku ini, dan aku tidak akan marah sedikitpun andaikan adikku ini bercerita dan terus terang dengan kondisi yang ada, aku bukanlah orang yang tega memaksakan adikku untuk tetap membantu menyekolahkan Yayah kalau memang kondisi keuangannya tidak memungkinkan, dan aku pun tidak akan marah andaikan Rita ini tidak meminta ibu untuk membantu biaya yayah dari hasil warung atau uang WC umum. Sepintas aku berfikir, salahkah aku mendidik adik-adikku selama ini? Memang untuk Rita, aku sendiri merasa tidak mendidiknya karena kita hanya terpaut setahun, yang mengontrol aku dan Rita saat itu adalah kakakku.

Robb, kenapa disaat aku ingin punya cita-cita Mulia selalu ada saja kerikil-kerikil kecil yang menjadi masalah? Aku sangat sangat ingin memberikan pendidikan terbaik untuk Yayah, aku ingin dia ikut program Bimbingan Belajar untuk menyiapkan diri satu tahun ke depan untuk ikut tes saringan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Aku berharap adikku yang satu ini bisa membuktikan dirinya di mata keluarga bahwa adikku ini bisa menjadi orang yang bisa diandalkan dan jauh lebih sukses dari kakak-kakaknya. Dokter, itu harapan dan cita-citaku untuk seorang Yayah, entah terlalu banyak berharap atau tidak, tapi yang jelas andaikan Yayah bisa masuk Kedokteran, setidaknya itulah bentuk nyata manfaat ilmu yang selama ini dia dapat dari dunia pendidikan dan bisa diterapkan di lingkungan sekitar terlebih untuk keluarga sendiri. Semoga saja Allah memberikan jalan untuk cita-cita adikku ini.

 

“Dede, andaikan dede membaca tulisan ini, aa berharap dede bisa menggapai dan menaklukan cita-cita yang selama ini dede persiapkan.”


--
http://bahartea.blogspot.com

Monday, April 27, 2009

Ku Bersyukur

Beberapa hari lalu ada sms dari salah satu adikku "A si arul dititah belajar tara daek wae asal dititah malah ngambek ka emi jeung ya2h. Malah ayeuna mah meulian cincin2an anu gopean. Geus aya 3 cincin na."

Hmm. sedih sekaligus marah, mungkin itu ungkapan yang cocok untukku saat ini. Sedih karena dia memang sudah kehilangan figur kakak-kakaknya yang kini sudah mulai mencari jati diri masing-masing. Adikku ini memang terpaut jauh umurnya dengan adik-adikku yang lain. Buatku, anak bontot itu manja hanya sebatas mitos. Tapi membaca sms dari adikku ini, ternyata bukan masalah manja atau bukan, tetapi seberapa jauh orang-orang yang bersinggungan dengan arul ini berperan. Lingkungan dan cara bersosialisasi yang salah lah penyebab utama kenapa adikku ini cukup jauh melenceng dari kakak-kakaknya.

Tapi aku bersyukur memiliki adik-adik yang bertanggung jawab (secara tidak langsung), sampai-sampai adikku yang sedang kuliah di Politeknik ini menyempatkan menulis email untuk memberikan pandangan, saran tentang adikku ini. Berikut ini emailnya:


Pertimbangkan kembali….

 

Sebelum aa memutuskan untuk tidak menyekolahkan si arul, silahkan aa pikir kembali dampak apa yang akan diterima si arul jika dia diberhentikan sekolah?

1.       Dirumah tidak ada yang mengontrol si arul

2.       Penilaian lingkungan terhadap dia mungkin akan membuat dia merasa beda dengan yang lain.

3.       Selama dia diberhentikan sekolah, kegiatan apa yang akan dia lakukan selama mengisi kekosongan hari-harinya?

4.       Bisa jadi dia akan melakukan sesuatu yang nekat

5.        Ini yang paling penting, apa yang ada dipikiran emi kalo si arul diberhentikan sekolah sama saudaranya sendiri?

Poin 1 & 5 yang harus aa pertimbangkan lebih dalam lagi

waktu bambang dibentuk sama aa, pada waktu itu ada rasa benci, kesal, dendam sama aa. Rasanya ga enak jadi anak yang selalu dapat tamparan, selalu bersitegang dengan saudaranya sendiri, tinggal di rumah yang "broken home". Sejak SD – 2 SMA bambang punya pikiran seperti itu.

Setelah menginjak kelas 3 SMA, bambang renungkan kembali apa yang sudah didapatkan selama ini.

 Setidaknya bambang beruntung punya pengalaman pahit waktu dulunya, manfaat yang bambang rasakan bambang punya pola pikir yang beda ketimbang teman2, bambang lebih bisa bertahan hidup daripada teman2, mungkin kalo bambang dulunya ga dapat pengalaman itu bisa saja sekarang bambang ga bisa bertahan hidup sendiri.

Dulu bambang pernah menampar habis-habisan si arul waktu dia masih kecil Cuma karna dia cengeng.

Tapi setelah bambang menginjak kelas 3 SMA, bambang mencoba flash back semua kejadian waktu dulu. Bambang punya niat, "bambang ga bakal mendidik adik2 bambang dengan cara kekerasan seperti dulu bambang dapatkan, bambang yakin bisa merubah suasana dirumah menjadi lebih tenang dengan tidak ada kekerasan dirumah", itu niat bambang a…

Bambang berani nampar si arul kalo dia udah kelewat batas. Disaat bambang nampar, hati kecil bambang nangis a… rasanya miris, ga tega. Sampai sekarang bambang merasa berdosa sama si arul atas apa yang bambang lakukan sama si arul.

Tapi kenyataan berbicara lain a..

Kita sekarang tau si arul mendapat nilai hancur, berani melawan emi.

Sebelum kita menyalahkan si arul atau aa menyalahkan bambang & umi, coba kita pikir lagi kenapa dia bisa seperti itu.

Si arul berani melawan emi, mungkin dulunya kita2 pernah ngasih contoh di depan dia kalo kita pernah berbicara kasar sama emi. Si arul bisa berbicara kasar sama emi mungkin karna dulunya kita pernah berbicara kasar di depan si arul, sehingga sekarang dia mencontohnya.

Bambang pribadi ga setuju kalo si arul diberhentikan sekolah.

Kita semua tau aa yang pegang kendali dirumah, apapun yang aa bilang pasti orang rumah ga ada yang berani menentang karna hidup mereka ada ditangan aa.

Jangan sampai ada anggapan mentang2 aa yang menyuplai keuangan dirumah, aa jadi memutuskan sesuatu hanya sepihak.

Kalo aa memberhentikan si arul, mungkin si arul akan melihat sosok aa dimata dia jadi negative. Udah mah ga ada figure dirumah, aa malah memutuskan sesuatu hanya sepihak.

Bambang memikirkan kondisi emi, kondisi psikologis si arul.

Bambang ga mau antara adik2 aa jadi ada jarak sama aa karna mereka takut akan seorang sosok "aa".

Aa lebih tau, bambang yakin ada cara lain untuk membuat "shock terapi" selain memberhentikan sekolah si arul.

Itu hanya pendapat bambang, bambang mau aa bisa mempertimbangkan kembali keputusan aa.

Pasti ada keputusan yang lebih bijak , pasti ada cara lain yang lebih halus tapi "ngena" ke mental dia.

 



--
http://bahartea.blogspot.com

Monday, April 20, 2009

Here it is

Here It Is

Karena kesibukan sampai blog ini tidak terurus dan tidak pernah
diupdate. Ada banyak hal yang aku rasakan di awal tahun 2009 ini.
Alhamdulillah kini aku telah keluar dari predikat Jomblo. Saat ini
istriku tercinta, Perdanawaty atau biasa ku sapa dengan panggilan
'ade' ini merupakan karunia dari Allah untukku. Kenapa? Dua tiga tahun
ke belakang, aku seperti orang yang boleh dibilang 'kebakaran jenggot'
kejar sana-sini, cari sana-sini untuk mencari pasangan hidup. Semakin
dicari, ternyata semakin susah didapat.
Hari demi hari, bulan berganti bulan, sampai bilangan tahun pun
berganti, aku masih belum menemukan 'pendamping hidup' yang terbaik
menurut sudut pandang aku dan keluargaku di saat itu. Sampai akhirnya
aku merasa cukup lelah, aku merenung, berdoa dan pasrah sama Allah.
"Robb, aku bukan tidak berusaha untuk mencari pasangan hidupku, tetapi
sampai saat ini aku meminta kepadamu, untuk memilihkan seseorang yang
terbaik menurut-Mu belum juga menunjukan tanda-tanda. Aku
sangat-sangat yakin dengan kuasa-Mu ya Allah" Doa itu selalu aku pinta
di penghujung sholatku.
Akhirnya untuk kesekian kalinya aku mengagumi skenario Allah ini.
Suatu saat setelah aku selesai sholat di kantor, kebetulan aku jadi
Imam dan ada beberapa orang jadi makmum. Selesai berdo'a, aku
dikejutkan dengan pertanyaan salah satu makmum perempuan, Lina atau
tepatnya Carlina Agitha. Di kantor, aku memanggilnya "Dek". Singkat
cerita, di Mushola kantor lah Lina ingin memperkenalkan saudaranya.
Dengan waktu perkenalan dan masa penjajakan kurang dari satu tahun, ku
beranikan diri untuk melangkah ke arah pernikahan. Di tanggal 14
Desember 2009, satu momentum besar kujalankan, Menikah. Sampai aku
menulis blog ini sudah 124 hari atau 4 bulan 4 hari tepatnya aku
menjalani hidup sebagai seorang kepala keluarga. Sayang, doakan aa
agar bisa menjadi imam yang baik yah. Semoga Allah selalu menjaga kita
berdua. Mendengar omongan orang mungkin tidak pernah ada ujungnya.
Dulu waktu masih jomblo, orang dikantor selalu menyindir "mana cewek
lu har? Sama siapa sekarang". Dan sekarang disaat aku sudah menikah,
pertanyaan berikutnya yang sering terlontar dari teman-teman
disekelilingku "udah hamil belum istri lo? Istri udah isi har? Udah
berapa bulan har?" terkadang omongan orang ini masuk juga ke pikiran.
Memang sampai saat ini istriku belum hamil juga, ada memang keinginan
untuk bisa punya anak secepatnya biar di rumah tidak kesepian, tapi
siapa juga yang bisa melawan kuasa Allah. Aku pribadi berpendapat
mungkin istriku terlalu cape karena jarak tempuh Depok – Kantor sekali
jalan kurang lebih 36 km, dan naik motor pula. Saat ini, berbagai
usaha aku coba agar istriku tidak terlalu cape. Untuk berangkat kerja,
aku antar istriku sampai ke stasiun, pulang kerja baru barengan naik
motor. Tapi sekali lagi, aku dan istri hanya bisa usaha dan ikhtiar,
Kalau Allah memang belum mengijinkan istriku hamil, dengan cara apapun
tidak akan ada yang bisa melawannya. Saat ini aku dan istriku tercinta
hanya bisa berdo'a sambil tetap berusaha untuk bisa punya momongan
secepatnya, masalah hasil 100% aku serahkan kepada yang Maha Gagah,
Allah SWT.
Sisi lain, tidak terasa adikku Bahrul Maulana RS dia sudah kelas V SD,
rasa-rasanya baru kemarin dia masih kelas 3, tidak terasa waktu begitu
cepat berlalu. Adikku yang lain Yayah Andriyani, saat ini kelas 2 SMA,
yang artinya tahun depan dia sudah harus mempersiapkan waktu dan
tenaganya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Aku berharap
dia jadi Dokter, setidaknya di antara adik-adikku yang lain ada lah
yang bisa mengerti tubuh ini dan penyakitnya. Aku ga muluk muluk
berharap penuh agar Yayah bisa jadi Dokter. Kalau aku banyak berharap
nantinya kejadian seperti taun lalu dimana adik-adikku tidak ada satu
pun yang bisa membuktikan mimpi dan cita-citanya (melenceng jauh dari
apa yang aku harapkan dan impikan) bisa terulang lagi. Makanya untuk
kali ini, biar Allah lah yang punya Hak Proregatif mau dibawa kemana
adik-adikku ini. Aku hanya sebatas menunjukkan jalan dan jadi
penyemangat untuk meraih cita-citanya.
Adikku yang lain pun, Umi Kulsum RS, saat ini dia menjalani
perkuliahan di Keperawatan Unjani. Cita-cita ini boleh jadi 1800
melenceng jauh dari apa yang adikku harapkan, syukur saat ini dia
termotivasi dari beberapa dosennya untuk bisa 'fight' dengan
perkuliahannya. Ada satu cita-cita luhur yang di inginkannya, yah
semoga saja Allah membimbing langkah dan kemantapan hatinya, Amiiin.
Ada kejadian yang lumayan membuat aku jadi kepikiran setelah aku
membaca sms dari kakak. Semenjak si Nai (panggilan untuk Umi) ini
pulang bareng dari Bandung setelah liat lahiran istri kakak, sampai
blog ini dibuat dia belum bersilaturahmi lagi ke rumah kakak, dia
lebih merasa nyaman tinggal di kosan ketimbang main ke rumah kakak.
Padahal dengan sering main ke rumah kakak, minimal ada banyak ilmu
yang bisa dimanfaatkan atau pun bisa jadi bekal perkuliahan dia. Hmm,
sampai hari ini pun aku ingin tau jawabannya, tapi adikku ini belum
bersedia memberikan keterangan sepatah kata pun kenapa sampai terjadi
hal itu.


--
http://bahartea.blogspot.com

About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"