Friday, May 8, 2009

Robb, Bukakan Pintu Hatinya….


Hampir setiap minggu aku memang selalu menyempatkan diri untuk menelepon keluargaku di Cikarang, pertanyaan yang terlontar pun hampir sama hanya seputaran kabar, sekolah, ada perkembangan apa beberapa hari terakhir. Itu memang sudah menjadi rutinitasku untuk mengontrol keluarga di Cikarang terlebih disaat aku telah menikah. Dalam bertelepon, aku memang selalu bergantian lawan bicara, terkadang dengan Emi (ibu), Arul, Yayah, kadang Abah (bapak).

Saat aku menanyakan tentang sekolah ke Yayah, diujung pembicaraan adikku yang satu ini ingin menyampaikan sesuatu tetapi seperti orang gugup atau kebingungan, dengan suara berat dia bilang bahwa sudah satu bulan terakhir ini dia tidak di support lagi uang sekolah oleh adikku Rita (adikku yang usianya terpaut satu tahun denganku, sudah menikah beberapa tahun lalu). Malahan, di beberapa bulan terakhir, uang yang seharusnya dibayarkan penuh sekitar 250 ribu pun, terkadang di berikan bertahap dan tidak mencapai 250 ribu. Parahnya lagi, adikku Rita ini menceritakan kondisi keuangannya ke ibu dan meminta pengertiannya dan kalau Yayah ini bisa dibantu keuangannya dari uang hasil warung atau WC umum, kontan saja aku marah. Bukan masalah adikku yang sudah tidak disupport lagi keuangannya yang membuatku jadi marah, tapi karena dia bercerita ke ibu dan kalau bisa Yayah ini dibantu keuangan sekolahnya dari hasil warung itu. Lebih parahnya lagi, adikku ini meminta status Yayah ini tidak diceritakan kepadaku.

Aku sangat sangat ngerti dengan kondisi keuangan adikku ini, dan aku tidak akan marah sedikitpun andaikan adikku ini bercerita dan terus terang dengan kondisi yang ada, aku bukanlah orang yang tega memaksakan adikku untuk tetap membantu menyekolahkan Yayah kalau memang kondisi keuangannya tidak memungkinkan, dan aku pun tidak akan marah andaikan Rita ini tidak meminta ibu untuk membantu biaya yayah dari hasil warung atau uang WC umum. Sepintas aku berfikir, salahkah aku mendidik adik-adikku selama ini? Memang untuk Rita, aku sendiri merasa tidak mendidiknya karena kita hanya terpaut setahun, yang mengontrol aku dan Rita saat itu adalah kakakku.

Robb, kenapa disaat aku ingin punya cita-cita Mulia selalu ada saja kerikil-kerikil kecil yang menjadi masalah? Aku sangat sangat ingin memberikan pendidikan terbaik untuk Yayah, aku ingin dia ikut program Bimbingan Belajar untuk menyiapkan diri satu tahun ke depan untuk ikut tes saringan masuk Perguruan Tinggi Negeri. Aku berharap adikku yang satu ini bisa membuktikan dirinya di mata keluarga bahwa adikku ini bisa menjadi orang yang bisa diandalkan dan jauh lebih sukses dari kakak-kakaknya. Dokter, itu harapan dan cita-citaku untuk seorang Yayah, entah terlalu banyak berharap atau tidak, tapi yang jelas andaikan Yayah bisa masuk Kedokteran, setidaknya itulah bentuk nyata manfaat ilmu yang selama ini dia dapat dari dunia pendidikan dan bisa diterapkan di lingkungan sekitar terlebih untuk keluarga sendiri. Semoga saja Allah memberikan jalan untuk cita-cita adikku ini.

 

“Dede, andaikan dede membaca tulisan ini, aa berharap dede bisa menggapai dan menaklukan cita-cita yang selama ini dede persiapkan.”


--
http://bahartea.blogspot.com

No comments:

About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"