Monday, December 21, 2015

524.288



Sudah lama sekali saya tidak menulis apa-apa di blog saya. Mungkin ada baiknya saya share tentang ikhtiar kami selama 7 tahun berumah tanggal yang sampai sekarang belum diberikan keturunan oleh Sang Maha Berkehendak.
Bulan ini, menjadi bulan tersibuk untuk saya dan istri. Bulan ini juga yang menyedot banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk mengejar ikhtiar itu (baca: mendapatkan keturunan). Bulan November 2015, kami sepakat untuk inseminasi.  Dan, hasilnya adalah Gagal. Istri kembali menstruasi seperti biasanya. Hampir tidak ada perbedaan yang berarti dengan siklus mens nya, masih normal di siklus 28 hari. Sesuai arahan Prof. Wachyu, jika seandainya setelah inseminasi istri masih mens, maka untuk sementara waktu tidak menghadap dan konsultasi dengan beliau, tetapi kami harus bertemu Androlog. Akhirnya kami menghadap dr. Indra sesuai arahan Prof. Wachyu. Setelah berkonsultasi dengan beliau, kami harus menjalani pemeriksaan lanjutan, istri harus diambil sampel darah, dan saya diambil sampel sperma. Darah istri nantinya akan diformulasikan sedemikan rupa dengan sperma saya. Proses ini dinamakan ASA (Anti Sperm Antibody). Sambil menunggu hasil lab yang baru keluar 3-4 hari kemudian, kami tenang dan santai saja menjalani aktivitas seperti biasa.
Setelah hasil lab keluar di hari Jum'at, 18 Desember 2015, kami kembali menghadap dr. Indra dan beliau berusaha menjelaskan secara singkat arti dari hasil lab kami berdua. Di laboratorium, diamati pengenceran serum darah istri atau plasma semen yang dapat menyebabkan aglutinasi spermatozoa. Normalnya, penggumpalan terjadi hanya pada ukuran pengenceran 1:64. Lebih dari angka 64 itu, ASA mulai dianggap tinggi. Semakin menjauh dari angka tersebut, berarti ASA semakin tinggi. Hasilnya, kami sungguh kaget. Ternyata, antibodi istri saya sangat tinggi, yaitu di 524.288. Dan itu adalah range tertinggi diantara nilai tertinggi. Artinya, ada penolakan dari tubuh istri terhadap sperma saya. Dalam hal ini sperma saya di anggap benda asing ditubuh istri. Karena dianggap benda asing, akhirnya sperma itu membentuk gumpalan-gumpalan yang tidak berguna. Kami hanya manggut-manggut setelah diberikan penjelasan seperti itu oleh dr. Indra.
Kami disarankan dokter untuk terapi PLI (Paternal Leucocyte Immunization). Terapi ini dilakukan secara continue setiap 3-4 minggu sekali. Sederhananya, PLI adalah proses memasukkan sel darah putih saya ke tubuh istri. Kenapa harus sel darah putih? Karena sel darah putih punya struktur DNA yang sama dengan sperma saya. Harapannya dengan dimasukkan nya sel darah putih saya ke tubuh istri, sel darah putih ini dikenal dan dianggap bukan benda asing. Disamping itu, ada pre-PLI yang harus dijalani, salah satunya adalah saya juga harus di ambil darah untuk memastikan tidak ada penyakit hepatitis A, B, C dan juga penyakit lainnya. Singkat cerita, darah saya pun harus dalam kondisi sehat, karena darah inilah yang akan di suntikkan (setelah di filter di Air Flow Incubator dan tersisa hanya sel darah putih) ke jaringan di bawah kulit istri saya.
Setelah kami tau harus di terapi PLI, kami pun langsung sama-sama googling, apa tahapannya, berapa biayanya, lama treatment, dan sebagainya. Hal ini penting kami ketahui karena kami berkejaran dengan waktu. Tidak terasa, di bulan ini pula, kami ternyata sudah 7 tahun menikah. Yup, kami menikah di 14 Desember 2008 yang lalu. Setelah berdiskusi agak panjang, kami memutuskan untuk menunda treatment PLI ini, karena keterbatasan keuangan (setelah sebelumnya keuangan kami banyak dialokasikan untuk biaya inseminasi). 
Kami memutuskan untuk mencoba pengobatan Alternatif yaitu Pijat Tuina. Saya mendapatkan referensi ini dari senior di kampus sewaktu di Bandung dulu. Kebetulan teman ini setelah 9 tahun penantian, akhirnya sekarang sedang hamil 5 bulan.  Yang menjadi unik, terapi yang dijalani selama ini untuk istrinya, lebih ke arah mengobati organ lain di tubuhnya, bukan menguatkan atau melancarkan organ reproduksinya. Atas dasar itulah, saya tertarik untuk mencoba. Tempat prakteknya di Bogor, persis seberang Istana Negara, disamping BCA Finance. Sesuai arahan dari teman kakak kelas, saya sudah sampai di tempat pengobatan jam 5.45 pagi. Dan sungguh beruntung, antrian saya nomor 10, yang artinya antrian terakhir.  Setelah berjam-jam menunggu antrian, kami akhirnya mendapat giiliran untuk masuk. Pertanyaan pertama "apa yang bisa saya bantu", kata si Terapisnya, yang sekarang saya tau namanya adalah Pak H. Jusuf. SA. Saya jawab "tidak dibawa". Saat itu juga jawaban saya di potong oleh beliau dan di suruh pulang, silahkan kembali lagi pada saat membawa hasil labnya. Jleb, gimana gitu rasanya, antri berjam-jam, nomor terakhir pula, setelah masuk, ternyata tidak sampai 2 menit konsultasi, hasilnya, disuruh pulang J.
Tidak menyerah, minggu berikutnya kami kembali lagi ke tempat prakteknya. Kali ini, kami berangkat jam 3 pagi dari rumah Kalibata karena mengejar subuh di tempat. Waktu subuh tiba, kita mampir di Masjid Raya Bogor. Selesai sholat, kami lanjutkan perjalanan ke tempat pengobatan itu. Kami mendapat antrian nomor 3. Yup, itulah perjuangan untuk berobat alternatif ke Pak H. Jusuf di Bogor. Singkat cerita, begitu antrian kami tiba, langsung masuk dengan membawa hasil lab yang kami punya. Menurut pendapat beliau, istri saya walaupun secara hasil medis terdapat antibodi yang sangat tinggi, baginya itu tidak masalah karena beliau berpendapat bahwa wanita itu hanya persemaian, yang paling menentukan adalah bibit yang ditanam. Saya hanya mengiyakan saja saat itu, akhirnya saya lah yang di Pijat Tuina terlebih dahulu oleh beliau. Nanti kami kembali lagi setelah istri menstruasi di bulan Januari 2016. Sebelum pulang, khusus untuk saya diberikan resep herbal yang harus di minum pagi dan sore sesuai dosis dan cara pakai yang sudah dijelaskan oleh asistennya.
Well, usaha dan ikhtiar kami ternyata masih sangat panjang. Bismillah, semoga ikhtiar ini menjadi ladang amal dan ibadah untuk kami berdua.

Jakarta, 21 Desember 2015 @My Office's Desk.


--

About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"