Hmm. sedih sekaligus marah, mungkin itu ungkapan yang cocok untukku saat ini. Sedih karena dia memang sudah kehilangan figur kakak-kakaknya yang kini sudah mulai mencari jati diri masing-masing. Adikku ini memang terpaut jauh umurnya dengan adik-adikku yang lain. Buatku, anak bontot itu manja hanya sebatas mitos. Tapi membaca sms dari adikku ini, ternyata bukan masalah manja atau bukan, tetapi seberapa jauh orang-orang yang bersinggungan dengan arul ini berperan. Lingkungan dan cara bersosialisasi yang salah lah penyebab utama kenapa adikku ini cukup jauh melenceng dari kakak-kakaknya.
Tapi aku bersyukur memiliki adik-adik yang bertanggung jawab (secara tidak langsung), sampai-sampai adikku yang sedang kuliah di Politeknik ini menyempatkan menulis email untuk memberikan pandangan, saran tentang adikku ini. Berikut ini emailnya:
Pertimbangkan kembali….
Sebelum aa memutuskan untuk tidak menyekolahkan si arul, silahkan aa pikir kembali dampak apa yang akan diterima si arul jika dia diberhentikan sekolah?
1. Dirumah tidak ada yang mengontrol si arul
2. Penilaian lingkungan terhadap dia mungkin akan membuat dia merasa beda dengan yang lain.
3. Selama dia diberhentikan sekolah, kegiatan apa yang akan dia lakukan selama mengisi kekosongan hari-harinya?
4. Bisa jadi dia akan melakukan sesuatu yang nekat
5. Ini yang paling penting, apa yang ada dipikiran emi kalo si arul diberhentikan sekolah sama saudaranya sendiri?
Poin 1 & 5 yang harus aa pertimbangkan lebih dalam lagi
waktu bambang dibentuk sama aa, pada waktu itu ada rasa benci, kesal, dendam sama aa. Rasanya ga enak jadi anak yang selalu dapat tamparan, selalu bersitegang dengan saudaranya sendiri, tinggal di rumah yang "broken home". Sejak SD – 2 SMA bambang punya pikiran seperti itu.
Setelah menginjak kelas 3 SMA, bambang renungkan kembali apa yang sudah didapatkan selama ini.
Setidaknya bambang beruntung punya pengalaman pahit waktu dulunya, manfaat yang bambang rasakan bambang punya pola pikir yang beda ketimbang teman2, bambang lebih bisa bertahan hidup daripada teman2, mungkin kalo bambang dulunya ga dapat pengalaman itu bisa saja sekarang bambang ga bisa bertahan hidup sendiri.
Dulu bambang pernah menampar habis-habisan si arul waktu dia masih kecil Cuma karna dia cengeng.
Tapi setelah bambang menginjak kelas 3 SMA, bambang mencoba flash back semua kejadian waktu dulu. Bambang punya niat, "bambang ga bakal mendidik adik2 bambang dengan cara kekerasan seperti dulu bambang dapatkan, bambang yakin bisa merubah suasana dirumah menjadi lebih tenang dengan tidak ada kekerasan dirumah", itu niat bambang a…
Bambang berani nampar si arul kalo dia udah kelewat batas. Disaat bambang nampar, hati kecil bambang nangis a… rasanya miris, ga tega. Sampai sekarang bambang merasa berdosa sama si arul atas apa yang bambang lakukan sama si arul.
Tapi kenyataan berbicara lain a..
Kita sekarang tau si arul mendapat nilai hancur, berani melawan emi.
Sebelum kita menyalahkan si arul atau aa menyalahkan bambang & umi, coba kita pikir lagi kenapa dia bisa seperti itu.
Si arul berani melawan emi, mungkin dulunya kita2 pernah ngasih contoh di depan dia kalo kita pernah berbicara kasar sama emi. Si arul bisa berbicara kasar sama emi mungkin karna dulunya kita pernah berbicara kasar di depan si arul, sehingga sekarang dia mencontohnya.
Bambang pribadi ga setuju kalo si arul diberhentikan sekolah.
Kita semua tau aa yang pegang kendali dirumah, apapun yang aa bilang pasti orang rumah ga ada yang berani menentang karna hidup mereka ada ditangan aa.
Jangan sampai ada anggapan mentang2 aa yang menyuplai keuangan dirumah, aa jadi memutuskan sesuatu hanya sepihak.
Kalo aa memberhentikan si arul, mungkin si arul akan melihat sosok aa dimata dia jadi negative. Udah mah ga ada figure dirumah, aa malah memutuskan sesuatu hanya sepihak.
Bambang memikirkan kondisi emi, kondisi psikologis si arul.
Bambang ga mau antara adik2 aa jadi ada jarak sama aa karna mereka takut akan seorang sosok "aa".
Aa lebih tau, bambang yakin ada cara lain untuk membuat "shock terapi" selain memberhentikan sekolah si arul.
Itu hanya pendapat bambang, bambang mau aa bisa mempertimbangkan kembali keputusan aa.
Pasti ada keputusan yang lebih bijak , pasti ada cara lain yang lebih halus tapi "ngena" ke mental dia.
--
http://bahartea.blogspot.com
No comments:
Post a Comment