Wednesday, August 1, 2007

Adikku ... Berjuanglah !!!

Hari ini tanggal 1 Agustus yang tinggal dua hari lagi menuju hari ulang tahunku yang ke-28. Di tahun ini mungkin tahun-tahun yang penuh tantangan sekaligus cobaan untukku. Adikku yang terkecil, si Arul mungkin belum begitu kompleks untuk dinilai sisi pendidikannya karena baru saja menginjak kelas 4 SD. Di atasnya si Arul, Yayah Andriyani adikku yang sangat polos dan lugu ini baru saja mengalami kegagalan masuk sekolah SMU 1 Cikarang, nilainya kurang 0,5 dari standar kelulusan yang ditentukan. Sedih memang, tapi aku sudah sangat yakin dan percaya, mungkin Allah punya skenario lain untuk adikku yang satu ini. Akhirnya Yayah masuk ke SMU Cikarang pusat yang notabene SMU ini masih terbilang relatif baru, belum terlalu terlihat kualitas dan sepak terjangnya di dunia pendidikan.
Adikku yang lain, di atasnya Yayah, Umi Kulsum. Dia baru saja naik ke kelas 3 SMU, yang artinya sebentar lagi (bagiku, setahun adalah waktu yang cepat di dunia pendidikan) adikku akan lulus, entah akan meneruskan kemana adikku ini, dan akupun belum tau apakah finansial yang aku punya bisa dan sanggup untuk meneruskan pendidikan dia (doakan saja Umi, semoga rejekimu di mudahkan Allah).
Yang paling aku perhatikan saat ini adalah adikku Bambang, dia saat ini benar-benar dalam kondisi tidak stabil dan mengalami kebingungan luar biasa. Setelah mengalami kegagalan masukmenjadi seorang Taruna, seolah adikku satu ini seperti tenggelam dari permukaan. Ada rasa penasaran dalam dirinya untuk mencoba daftar Akabri di tahun depan, tetapi bukannya aku tidak yakin. Kalau memang adikku ini sangat kuat pendiriannya untuk mencoba masuk di tahun depan, seharusnya kegagalan kali ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk dia, bukan untukku. Dan itu seharusnya tetap terlihat dari latihan dia yang tidak berhenti begitu saja semenjak mengalami kegagalan. Tapi entahlah, semua ini hanya dia sendiri yang bisa mengukur kemampuan dirinya untuk bisa membuktikan apakah dia benar-benar ingin mencoba di tahun depan atau tidak.
Permasalahan yang paling penting saat ini adalah adikku ingin mencoba melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi, jurusan apa yang akan diambil pun sepertinya masih menjadi kebingungan. Sempat terbersit dalam pikirannya untuk mencoba jurusan Teknik Informatika, tetapi setelah aku coba jelaskan bagaimana perkuliahannya dan mata kuliah yang minimal harus bisa dipahami, dia langsung berubah haluan. Mencoba browsing sana-sini, sempat tertarik dengan Desain Komunikasi Visual Unikom di Bandung, aku pun mencoba memberikan gambaran bagaimana perkuliahannya dan mata kuliah apa yang harus dikuasai nantinya. Setelah mendapatkan penjelasan, yang ada di adikku malah menjadi bertambah bingung, karena adikku sendiri menyadari sepenuhnya tidak memiliki kemampuan atau bakat seni yang terlihat. Mungkin karena lokasinya di Bandung pula lah yang membuat adikku tertarik untuk mengambil jurusan DKV ini sekaligus dia bisa mencoba masuk Akabri tahun depan dengan lokasi pendaftaran di Bandung.
Aku pribadi sempat menyarankan untuk kuliah di Jogja. Kenapa harus Jogja? bukan tanpa alasan aku mencoba memberikan saran untuk dia kuliah di sana. Beberapa alasan itu antara lain: 1. Mendidik adikku untuk benar-benar bisa mandiri di negeri orang (Jogja), disana tidak ada satupun keluarga atau saudara. Bila adikku di Bandung, setidaknya dia masih punya kakak yang bisa dijadikan objek ketergantungan di kemudian hari (walaupun belum tentu itu terjadi).
2. Alasan lainnya adalah biaya hidup yang jauh lebih murah, yang secara tidak langsung aku bisa mengatur cash flow yang tidak terlalu kompleks. 3. Aku berharapa setelah dia bisa mengenali lingkungan Jogja, dia bisa mengasah ulang kemampuannya untuk mencoba melanjutkan dari D3 ke jalur Ekstensi UGM.
Semua itu hanya keinginanku, tetapi hasil akhir ditentukan oleh adikku sendiri. Aku tidak mau ada unsur paksaan seolah-olah aku lah yang men-drive dia untuk masuk ke Universitas A, Universitas B atau yang lainnya. Biarkan adikku sendiri yang menentukan mana yang akan dipilih nantinya. Asalkan di kemudian hari tidak ada penyesalan, aku setuju saja.
Yang membuat aku terharu saat ini adalah ketika tadi pagi aku mencoba menelepon adikku ini dan aku berikan penjelasan ke dia bahwa apapun yang bambang pilih nantinya, berusahalah dengan sekuat tenaga dan maksimalkan kemampuan yang ada. Pelan tapi terdengar pasti di ujung telepon aku mendengar adikku menangis, aku sangat paham mengapa adikku ini bisa menangis. Mungkin dia kaget bahwa semua rencana yang aku sudah buat tiap tahunnya selalu gagal dan kembali ke nol untuk bisa mendapatkan finansial yang memadai untuk biaya sekolah dan kuliah adik-adikku. Aku memang tidak pernah mengharapkan apapun dari adikku. Aku tidak ingin mendikte semua adik-adikku untuk tunduk atau patuh terhadap perintahku, sedikit saja yang aku inginkan dari mereka, aku ingin bukti nyata sampai sejauh apa hasil mereka sekolah dan kuliah. Belum apa-apa sepertinya aku sudah diperlihatkan dengan hasil yang 'kurang membanggakan'. Adikku Yayah yang tadinya aku harapkan bisa masuk ke sekolah SMU ku dulu, ternyata hanya tinggal impian. Adikku Ummi pun sama, aku mengharapkan dengan ke-smart-an nya dia bisa masuk ke sekolah negeri yang lebih baik, tetapi mengalami hal yang sama. Dan ternyata adikku Bambang pun, dia gagal membuktikan diri menjadi seorang Taruna. Entah skenario apalagi yang Allah siapkan untuk keluargaku. Saat ini aku tidak pernah menuntut macam-macam terhadap semua adik-adikku. Pintaku hanya satu, buktikan bahwa keluarga kita yang jauh dari kecukupan bisa 'keluar' dari permasalahan hidup yang selalu membelenggu dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Ya, permasalahan itu adalah finansial dan kondisi keluarga yang belum memungkinkan untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Robb, aku sangat yakin dan percaya dengan Kekuasaan-Mu, aku sangat yakin dan percaya dengan Kebesaran-Mu. Kalau keluargaku ini memang di uji di hadapan-Mu, berikan kami kekuatan untuk bisa menjalani semua ujian dari-Mu. Berikan kami jalan yang bisa membuat keluarga kami lepas dari 'jaring' hidup yang selama ini kami alami. Berikan kemudahan bagi kami untuk bisa bangkit menuju hidup yang lebih baik. Jauhkan keluarga kami dari kekufuran dan kemiskinan. Mudahkan rejeki keluarga kami, jadikan adik-adikku orang yang bisa membahagiakan kedua orang tuaku, selalu membuat kedua orang tuaku tersenyum bangga. Angkat penyakit ibuku ya Allah. Amiin.

written on Wednesday, August 1, 2007. 10.06 PM

No comments:

About Me

Satu di antara makhluk-Nya yang ingin menjalani hidup dengan "kemandirian"